Aku jelas telah selesai menghadapi rasa sakit yang begitu hebat sebelum mengenalmu. Begitu hebatnya hingga separuh diriku seakan terasa hilang. Bahkan untuk membuka mata lagi rasanya sangat silau dan penuh sesak di dada. Aku percaya saat itu tidak ada yang bisa membuatku terpana lagi. Tidak, satupun tidak.
Tapi, entah mengapa akhirnya aku membuka sedikit demi sedikit pintu itu hingga terbuka setengahnya. Memang rasa bahagia mulai beranak-pinak di dalam jiwa ini, namun aku tetap dalam keadaan terjaga. Aku tetap waspada dengan pintu yang sudah terbuka itu. Tetap menahan rasa bahagia agar ia tidak sembarang beranak-pinak. Mengendalikan cinta agar tetap berada di jalur yang logis.
Aku belajar menjadi wajar. Mencinta secukupnya, berharap secukupnya..
sr, 23 desember 2015
Sabtu, 23 Juli 2016
Minggu, 17 Juli 2016
Penyakit akibat pikiran negatif
*PENYAKIT itu 90% dari PIKIRAN dan 10% dari Pola Makan*
Berikut korelasi daftar penyakit dg pikiran negatif:_
*1) MARAH,* selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuhmu mengalami depresi 6 jam.
*2) DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN* menyebabkan imun tubuh mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).
3) Jika kamu sering membiarkan dirimu *STRESS,* maka sering mengalami *GANGGUAN PENCERNAAN.*
4) Jika *MUDAH TERSINGGUNG,* maka kamu cenderung terkena penyakit _INSOMNIA (susah tidur)._
5) Jika sering mengalami *KEBINGUNGAN,* maka kamu akan terkena _GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH._
6) Jika sering membiarkan dirimu merasa *TAKUT yang BERLEBIHAN*, kamu akan mudah terkena penyakit _GINJAL._
7) Jika suka ber- *NEGATIVE THINKING,* kamu akan mudah terkena _DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna)._
8) Jika mudah EMOSI & cenderung *PEMARAH,* hati2 saja yaa bisa rentan terhadap penyakit _HEPATITIS._
9) Jika sering merasa *APATIS (tidak pernah peduli)* terhadap lingkungan, akan berpotensi mengalami _PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH._
10) Jika sering *MENGANGGAP SEPELE* semua persoalan, hal ini bisa mengakibatkan penyakit _DIABETES._
11) Jika sering merasa *KESEPIAN,* bisa terkena penyakit _DEMENSIA SENELIS_ (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).
12) Jika sering *BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI,* menyebabkan penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).
Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” (by : Dr. Masaru )
Berikut korelasi daftar penyakit dg pikiran negatif:_
*1) MARAH,* selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuhmu mengalami depresi 6 jam.
*2) DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN* menyebabkan imun tubuh mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).
3) Jika kamu sering membiarkan dirimu *STRESS,* maka sering mengalami *GANGGUAN PENCERNAAN.*
4) Jika *MUDAH TERSINGGUNG,* maka kamu cenderung terkena penyakit _INSOMNIA (susah tidur)._
5) Jika sering mengalami *KEBINGUNGAN,* maka kamu akan terkena _GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH._
6) Jika sering membiarkan dirimu merasa *TAKUT yang BERLEBIHAN*, kamu akan mudah terkena penyakit _GINJAL._
7) Jika suka ber- *NEGATIVE THINKING,* kamu akan mudah terkena _DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna)._
8) Jika mudah EMOSI & cenderung *PEMARAH,* hati2 saja yaa bisa rentan terhadap penyakit _HEPATITIS._
9) Jika sering merasa *APATIS (tidak pernah peduli)* terhadap lingkungan, akan berpotensi mengalami _PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH._
10) Jika sering *MENGANGGAP SEPELE* semua persoalan, hal ini bisa mengakibatkan penyakit _DIABETES._
11) Jika sering merasa *KESEPIAN,* bisa terkena penyakit _DEMENSIA SENELIS_ (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).
12) Jika sering *BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI,* menyebabkan penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).
Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” (by : Dr. Masaru )
Minggu, 10 Juli 2016
Canggih, aplikasi ini bisa mengartikan tangisan bayi
Suara tangisan bayi sering kali membuat para ibu panik. Para ibu ataupun ayah kerap bingung apakah bayi mereka menangis karena lapar, popok basah, atau merasa kesakitan.
Para peneliti di Taiwan pun mengembangkan aplikasi yang bisa menerjemahkan suara tangisan bayi itu. Aplikasi The Infant Cries Translator yang dikembangkan di National Taiwan University Hospital Yunlin ini dapat membedakan empat arti suara bayi saat menangis.
Aplikasi ini membantu memberikan informasi kepada orangtua untuk memahami bayi menangis karena lapar, mengantuk, sakit, atau karena popok basah.
Bagaimana caranya? Pertama, setelah mengunduh aplikasi di iOS dan Android melalui App Store ataupun Google Play, isilah data tanggal kelahiran bayi dan asal kebangsaan.
"Setelah bayi menangis, kita hanya perlu menekan tombol perekaman selama 10 detik. Kemudian, suara akan di-upload ke Cloud Drive," ujar peneliti Chang Chuan-yu.
Dari Cloud Drive, suara akan dianalisis, dan hasilnya akan dikirim ke telepon genggam atau handphone ibu. Nah, ibu pun bisa membuat revisi apakah hasil terjemahan aplikasi tersebut sama dengan yang terjadi pada bayinya.
Orangtua bisa membuat pengaturan sendiri pada aplikasi saat bayi menangis karena lapar, popok basah, kesakitan, atau mengantuk. Data di Cloud Drive akan terus diperbarui sesuai dengan suara tangisan bayi yang pernah direkam.
Peneliti mengungkapkan, tingkat akurasi aplikasi ini mencapai 92 persen untuk bayi berusia di bawah dua minggu. Adapun untuk bayi di bawah satu atau dua bulan, akurasi 84 hingga 85 persen. Sementara itu, untuk bayi berusia empat bulan, akurasi bisa mencapai 77 persen.
Sebelum menciptakan aplikasi ini, mereka telah melakukan penelitian selama dua tahun. Peneliti mengumpulkan sekitar 200.000 suara tangisan bayi dari sekitar 100 bayi yang baru lahir. Semua suara itu dianalisis dengan melihat frekuensi jeritan.
Peneliti lain yang juga dokter anak, Chen Si-da, mengungkapkan, bayi yang baru lahir memiliki respons yang khas ketika merasa lapar. Selain bersuara, mereka akan meronta-ronta tak terkendali. Bayi juga akan menjilati bibirnya dan memutar kepala untuk mencari payudara ibu.
Salah satu pengguna The Infant Cries Translator, Guo Young-ming, mengaku bahwa aplikasi ini sangat membantunya untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan ketika bayinya menangis. Aplikasi ini membantu para orangtua, khususnya saat mengatasi anak pertama.
(Dian Maharani/Kompas.com)
Cara menghapus kenangan menyakitkan
Peneliti telah menemukan cara jauh lebih murah dan tidak terlalu rumit untuk menghapus kenangan yang tidak diinginkan. Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review, kunci untuk melupakan cukup dengan berbaring dan mengubah cara kita berpikir tentang "konteks" ingatan di sekitar kita.
Konteks adalah hal cukup luas dan sulit untuk dijabarkan. Pada dasarnya, mengacu pada segala sesuatu yang terjadi di sekitar peristiwa tertentu, dan, menurut penulis studi, memiliki pengaruh besar atas bagaimana kenangan diorganisir dan direkam oleh otak. Misalnya, jika Anda kebetulan memiliki pengalaman buruk setelah minum terlalu banyak tequila (ini merupakan memori yang cukup efektif untuk dihapus), maka kenangan buruk akan kembali tergali bila Anda mengambil segelas minuman yang sama di lain waktu.
Anda mungkin akan hanya menyalahkan diri sendiri karena terlalu mabuk dan menempatkan diri dalam emosi tertentu, namun orang-orang yang mengalami peristiwa menyedihkan yang lebih serius terkadang-kadang dapat menderitapasca-traumatic stress disorder (PTSD), dimana isyarat kontekstual tertentu dapat menghidupkan kembali kenangan menyakitkan mereka. Jika penderita dapat belajar memisahkan kenangan ini dari konteks mereka, ini mungkin dapat meringankan PTSD mereka.
Peneliti dari Universitas Princeton dan Dartmouth College menguji kemungkinan tersebut. Mereka melakukan tes memori pada subyek (relawan penelitian). Peneliti menunjukkan daftar kata-kata untuk dihafal atau lupakan. Dalam melihat setiap kata, peneliti memberikan selingan dengan menunjukkan gambar dari pemandangan alam, seperti gunung atau hutan, dengan harapan subyek secara otomatis akan mengasosiasikan memori dari kata-kata dengan isyarat kontekstual ini.
Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk mengamati aktivitas otak partisipan, mencatat pola saraf yang terjadi karena mereka mengkodekan gambar-gambar kontekstual. (Baca juga : Otak Manusia Menyimpan Kenangan 10 Kali Lebih Banyak)
Subyek kemudian diminta untuk mencoba dan mengingat daftar kata, sementara peneliti sekali lagi mengukur aktivitas otak mereka menggunakan fMRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang telah diberitahu untuk mengingat daftar, cenderung memutar ulang pola saraf yang sama terkait dengan konteks ketika mengingat kata-kata. Ini menunjukkan bahwa memori dan konteksnya telah terjalin dalam otak mereka.
Namun, subyek yang tidak mengingat daftar kata, justru tidak mengulangi pola saraf ini ketika gagal mencoba untuk mengingat kata-kata. Itu menunjukkan bahwa memori dan konteks tidak terjalin dalam pikiran mereka.
Peneliti utama, Jeremy Manning menjelaskan dalam sebuah pernyataan bahwa proses ini mirip dengan "mendorong memori masakan nenek Anda pikiran, jika Anda tidak ingin untuk berpikir tentang nenek Anda pada saat itu." Setelah penelitiannya diidentifikasi sebagai mekanisme untuk melupakan , ia berharap untuk melihat karyanya digunakan sebagai platform untuk mengembangkan berbagai terapi memori baru.
(Baca pula : Kenangan Warga Kala Krakatau Mengguncang Batavia)
"Sebagai contoh, kita mungkin ingin melupakan peristiwa traumatis, seperti tentara dengan PTSD. Atau kita mungkin ingin mendapatkan informasi lama dari kepala kita, sehingga kita bisa fokus belajar materi baru," katanya.
(K.N Rosandrani / Iflscience
Kematian bisa ditunda, benarkah?
Kematian Bisa Ditunda, Benarkah?
Kematian lebih ditentukan oleh kiriman sinyal ke jantung dari otak daripada organ jantung itu sendiri.
Selama ini, banyak orang percaya bahwa kematian dipicu oleh jantung yang berhenti berdetak sehingga pemompaan darah ke seluruh tubuh terhenti dan akhirnya tubuh berhenti bekerja.
Namun, penelitian terbaru oleh pakar saraf dari University of Michigan, Jimo Borjigin mengungkap, kematian lebih ditentukan oleh kiriman sinyal ke jantung dari otak daripada organ jantung itu sendiri.
"Orang biasanya fokus pada jantung, berpikir bahwa jika menyelamatkan jantung, maka otak juga akan selamat. Anda harus memutuskan komunikasi kimia antara otak dan jantung untuk menyelamatkan jantung," kata Borjigin.
Untuk mengungkap hal itu, Borjigin memaparkan karbon dioksida ke tikus, menginduksi kejadian henti detak jantung. Menjelang kematian, ilmuwan mengamati aktivitas jantung dengan echocardiography (ECG) danelectroencephalography (EEG) serta sinyal kimia pada dua organ itu.
Borjigin mengungkap, setelah terpapar karbon dioksida, detak jantung tikus langsung turun. Lalu, aktivitas otak menyesuaikan dengan aktivitas jantung. Saat itu, senyawa dopamine yang memicu relaksasi, dan norepinephrine yang memicu kewaspadaan, membanjiri darah.
Setelah dikirimnya dua senyawa yang berfungsi sebagai sinyal itu, jantung terus seirama dengan otak hingga bagian bilik bawah jantung tak bisa berkontraksi dengan normal guna memompa darah. Kondisi itu disebut ventricular fibrillation.
Kondisi ventricular fibrillation memicu kematian. Ketika ilmuwan menghambat pengiriman dopamine dan norepinephrine, kondisi ventricular fibrillation tersebut dapat dihambat. Akhirnya, kematian pun bisa ditunda.
Apakah cara yang sama bisa dilakukan pada manusia untuk menunda kematian? Borjigin, seperti diberitakan Livecscience, Selasa (7/4), mengatakan, "Itu pertanyaan seharga miliaran dollar."
Riset untuk mewujudkannya akan sangat berharga. Ini bukan untuk memenuhi hasrat orang yang tak mau mati, melainkan untuk menyelamatkan nyawa orang yang mengalami henti detak jantung. Dengan memblokir sinyal dari otak, dokter punya waktu lebih untuk menyelamatkan pasien.
Apakah cara yang sama bisa dilakukan pada manusia untuk menunda kematian? Borjigin, seperti diberitakan Livecscience, Selasa (7/4), mengatakan, "Itu pertanyaan seharga miliaran dollar."
Riset untuk mewujudkannya akan sangat berharga. Ini bukan untuk memenuhi hasrat orang yang tak mau mati, melainkan untuk menyelamatkan nyawa orang yang mengalami henti detak jantung. Dengan memblokir sinyal dari otak, dokter punya waktu lebih untuk menyelamatkan pasien.
(sains.kompas.com, Sumber: Live Science)
Langganan:
Postingan (Atom)