Selasa, 28 April 2015

pohon


Kalau diperhatikan, kok bisa ya pohon itu tetap berdiri kokoh meski diterpa panas maupun hujan? Padahal, kalau kita dihadapi dengan hal yang sama, mungkin kita sudah misuh-misuh duluan. Tapi, itulah intinya, mungkin begitu seharusnya kita menjalani hidup. Panas itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cadangan makanan, membantu kita tetap hidup. Dan ketika hujan datang, kita mungkin hanya perlu untuk meliuk bersama angin yang datang bersamanya, tidak menjadi kaku lalu patah. Hujan pun mungkin menyebabkan satu-dua ranting kita patah, tapi perhatikanlah bahwa mungkin itu adalah dahan-dahan tua, yang memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru — yang lebih kokoh.

Di situ letak bedanya kita dan pohon. Pohon bersikap seperti itu mungkin hanya karena sudah kodratnya seperti itu, mengikuti apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan kita, manusia, punya kebebasan yang diberikan Tuhan untuk memilih jalan kita sendiri — memilih cara kita menyikapi hidup. Kalau kita salah, mungkin saja “patah” adalah konsekuensi dari pilihan kita. Namun, kebahagiaan yang dapat kita rasakan ketika berhasil bersikap benar tentu merupakan berkah yang teramat besar.

menyerah

Sudah gak tahan lagi. Sudah capek. Sudah pengen nyerah.” Begitu kira-kira pesan dari seorang teman di Tweeter. Setelah membacanya, saya terdiam dan mencoba untuk memberi komentar atas pesan bernada keluh kesah itu.

Sebelum melayangkan komentar, saya melakukan kilas balik pada sebuah peristiwa yang sedang saya alami. Sesuatu yang menjengkelkan. Karena, saya dibuat sedemikian rupa menjadi terdakwa dari sebuah kesalahan besar yang tidak saya lakukan. Gondoknya setengah hidup. Betul-betul membuat saya dua hari tak bisa tidur.

Mungkin sama gondoknya dengan orang-orang yang kini didakwa mesum. Padahal, menurut saya, yang justru paling mesum dan yang paling tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, yaa… manusia yang dengan kurang ajarnya memublikasikan perbuatan yang katanya maksiat itu, dan sejuta orang lainnya yang turut dalam euforia menjalarkan video itu makin ke mana-mana.

Mengingat peristiwa yang menimpa saya itu, makin membuat saya jengkel karena saya baru pulang dari menikmati liburan. Kemudian saya protes kepada yang mengorganisasi setiap momen dalam hidup saya itu. Kenapa sih, kok, seneng banget lihat saya ini susah. Kok rasanya mau tentrem sebentar saja susah.

Sampai pada suatu hari saya kelelahan. Kelelahan protes. Kemudian saya memutuskan untuk menyerah. Menyerah pada keadaan seperti seekor sapi yang tak bisa apa-apa berjalan ke tempat pembantaian. Dan menit saya memutuskan untuk menyerah, saya terlepas dari beban menjengkelkan itu.

Saya berhenti komat-kamit menaikkan protes dan demo kepada Sang Khalik. Saya tak tahu kalau sapi, apa setelah dibantai ia merasa lega karena mati. Mungkin melihatnya harus berbeda. Ia mati untuk saya. Supaya saya bisa menikmati enaknya rawon dan selad Solo.

Pada saat saya menyerah, saya baru bisa berpikir mengapa saya gondok? Karena, saya masih mau mencari celah untuk memenangkan, bahkan kalau bisa meniadakan peristiwa itu. Celah untuk memperbaiki nasi yang telah jadi bubur itu. Pada saat saya membiarkan kalah, saya tahu adalah sebuah kekeliruan besar mau mengubah bubur jadi nasi lagi.

Bubur ayam
Selama hidup saya dicekoki nasihat supaya jangan sekali-kali menyerah pada keadaan. Tapi, kali ini saya membiarkan untuk berhenti mengaminkan nasihat yang kelihatannya mulia itu, tapi menjerat saya semakin frustrasi dan melelahkan. Berjuang terus itu menghabiskan energi, ada masanya seseorang membutuhkan waktu rehat. Itu mengapa tidur diperlukan dan sebuah bukti betapa tidak berdayanya saya melawan kantuk.

Saya dibiarkan menyerah kalah agar setelah itu saya menjadi manusia seutuhnya. Jadi, kalau ditanya bagaimana rasanya asam, manis, dan pahit, kalah dan menang, paling tidak saya tahu. Maka, benarlah kalau hidup itu penuh dengan sejuta rasa, dan berjuta rasa.

Setelah menyerah, saya tertidur lelap. Edan saya pikir, la wong kalah kok saya malah terbebaskan. Jadi untuk gain itu tak selalu harus pain. Mau selalu menang itu mengeringkan tulang dan menenggelamkan jiwa. Menyerah kalah itu melepaskan beban, dan sebuah masa mengumpulkan energi baru untuk berdiri kembali, dan tidak untuk dipakai melawan hal yang lama tadi.

Keadaan yang saya hadapi tak berubah, masih harus dihadapi dengan banyak jalan berliku. Tetapi, hal paling menyenangkan dari menyerah kalah adalah melihat peristiwa yang sama dengan lensa mata yang berbeda.

Namanya juga menyerah dan kalah, yaa... saya rela-rela saja untuk membiarkan semuanya terjadi, membiarkan ada yang mengobok-obok hidup saya meski setiap hari saya panjatkan sebuah permohonan agar saya itu dilindungi dari yang jahat, dari yang berniat mengurangajari saya.

Saya kalah sama sapi. Saya yakin mereka tak pernah memanjatkan permohonan untuk tidak dibantai. Mereka punya mental lahir untuk dibantai, yaaa… supaya saya dan Anda bisa menjadi sehat.

Kalau sudah rela, saya cuma tinggal menjalaninya seperti mengikuti aliran air, tanpa berniat melawan arus dengan sejuta rekayasa, atau balas dendam. Kalah itu menang. Di situasi tak berdaya itu, Tuhan memberikan lensa yang terang untuk melihat kekalahan dari sisi yang lain. Maka, demo kepada Sang Khalik itu semestinya memang tak perlu ada.

Kalah yang menenangkan dan memenangkan itu adalah membiarkan nasi menjadi bubur, dan melihat bubur, kemudian timbul ide untuk menambahkan ke dalamnya potongan ayam, kecap manis, daun bawang, telor setengah matang, dan kuah kaldu. Maka, pada situasi itulah saya bersyukur bahwa dalam hidup ini nasi bisa jadi bubur. Uenak!

Maka, kepada teman saya di Tweeter, saya membalasnya demikian. Nyerah saja. Menyerah itu menghilangkan capek. Setelah itu, saya mengambil iPod menutup lubang telinga dan memenuhi kepala saya dengan suara Joy Tobing menyanyikan It is well with my soul.

Parodi samuel

mencoba

Saya sedang duduk di tepi pantai di atas kursipanjang. Deburan air laut terdengar diselingi suara burung. Langit pulau dewata, seperti biasa, biru bersih dan indah. Angin sepoi-sepoi menciumi kulit dan makin membuat rasa malas itu menjadi-jadi.

Entah mengapa, di tengah suasana itu, saya teringat akan pesan dari seorang asisten desainer yang sangat rajin menyirami saya dengan pesan-pesan mulia yang menyemangati dan menggampar pada waktu yang bersamaan.Begini pesan mulia itu. ”I can accept failure but I can not accept not trying”.

Gagal
Kalimat itu menerbangkan saya pada masa lalu yang menjengkelkan karena trauma masa kecil oleh kepala sekolah yang membuat saya merasa ia harus bertanggung jawab terhadap ketidakmampuan saya memiliki kepercayaan diri sekarang ini untuk berani mencoba; karena tak bisa atau tak mau melihat dan menghargai kalau saya ini sudah mencoba dan gagal menjadi murid pandai.

Ada teman saya yang mengomentari saat saya berkeluh kesah soal yang satu ini. ”Kan, kamu sudah dewasa sekarang. Elo dong yang juga bersikap dewasa.” Benarkah demikian? Benarkah saya yang sekarang ini bisa tidak keder hanya karena saya dewasa dan bisa berpikir untuk tidak keder tanpa mengingat bahwa fondasi saya yang sesungguhnya begitu kedernya? Kalau saya tak bisa matematika dan sudah mencoba dan ternyata hasilnya cuma ya, gitu deh, mengapa saya dikelompokkan menjadi murid tidak pandai? Tak hanya guru di sekolah. Ayah saya saja pernah menggertak dan naik pitam karena saya tak bisa menjawab pertanyaan ilmu pengetahuan alam yang disodorkan kepada saya. Saya sudah berusaha, tetapi tak bisa.

Kemampuan saya tak pada yang eksak, tetapi pada yang tidak eksak, yang umumnya sangat tidak dihargai sebagai juara kelas. Namun, sepertinya ia tak mau tahu. Maka, ia berteriak dan saya makin tak bisa menjawab. Kemudian saya berpikir, apakah quote-quote indah yang mengajarkan berpikir positif itu benar adanya? I can accept failure, misalnya. Saya, sih, bisa-bisa saja menerima kegagalan. Itu sudah pasti. Lha, wong hidup saya sendiri, kok. Akan tetapi, masalahnya, apakah guru, kepala sekolah, dan ayah saya mau menerima kalau saya gagal?

Tetap gagal
Menurut pengalaman saya, sih, mereka tidak mau dan tidak bisa menerima. Buktinya? Pengelompokan terhadap murid pandai dan tidak, saya di-kumon-kan (meminjam istilah sekarang) supaya saya bisa sama pandainya dengan anak tetangga dan, kalau sudah semua dilakukan dan saya tetap gagal, mereka kemudian berteriak begini. ”Gitu aja ndak bisa.” Saya jadi teringat akan obrolan dengan seorang teman beberapa hari sebelum peluncuran film perdana pada akhir bulan lalu, di mana saya berperan sebagai bintang utama sebuah film semidokumenter. Begini ia mengirim pesannya. ”Bagaimana, uda siap dihina tanggal 31? Ha-ha sudah siaplah. Orang dari lahir juga selalu dihina-hinakan ha-ha-ha-ha.” Kemudian pesannya dilanjutkan begini. ”Aku sih berdoa sukseslah. You have to start from nothing to become something.”

Saya hanya berpikir, kalau seandainya guru dan ayah saya bisa berpikir seperti teman saya, mungkin saya menjadi orang yang paling berbahagia. Berbahagia karena dihargai karena mencoba dari nol dari nothing, bukan dinilai karena bermain buruk. Dinilai karena saya berani mencoba, bukan takut kalau hasilnya tidak menyenangkan banyak orang dan kemudian merasa tertekan pada akhirnya. I can not accept not trying. Kalau dari kacamata saya sebagai yang tertindas, saya setuju bahwa semua orang harusnya mau melihat bahwa saya udah mencoba. Namun, apakah guru dan kepala sekolah serta ayah saya bisa setuju dengan kalimat itu? Persis seperti quote lain macam begini. The most important thing is not the destination but the journey. Benarkah guru, ayah saya, dan orang lain mau menghargai the journey, dan the trying-nya itu, dan bukan hanya semata-mata destinasinya alias hasil akhirnya? Itu mengapa saya harus berpikir untuk tidak keder meski sejujurnya saya selalu keder. Maka, saya mengerti mengapa kalau dalam seminar saya takut bertanya, takut mengungkapkan ide saya, takut di suruh duduk di depan.

Parodi samuel mulia

fenomena prostitusi online

 Kasus Deudeuh Alfi Sahrin (27) atau @tataa_chubby yang ditemukan tewas di kamar kosnya, Jalan Tebet Utara 1, Nomor 15 C, Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu 11 April malam menguak adanya bisnis prostitusi di media sosial ke ruang publik.

Di Indonesia bisnis esek-esek ini tumbuh seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan praktek prostitusi dari konvensional menjadi online tidak terlepas dari  tuntutan) gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik.

Cara yang dilakukan untuk menggunakan jasa  seks komersial terbilang sangat mudah, cukup dengan memasukkan kata kunci tertentu di media sosial. Dalam waktu singkat, akun-akun yang menawarkan jasa PSK pun bermunculan. Di akun-akun tersebut, para penyedia jasa menampilkan informasi terkait data diri, seperti tinggi dan berat badan, tarif, alamat, dan prosedur pemesanan.

Terlepas dari berbagai fenomena prostitusi yang muncul dan berkembang dalam masyarakat, faktanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai era postmodern telah memberi andil besar dalam perubahan perilaku masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Pergeseran pola perilaku dalam masyarakat sebagai dampak globalisasi pada kenyataannya sangat berpengaruh di negara berkembang tidak terkecuali Indonesia. Keberadaan situs-situs penjual jasa prostitusi online harus disikapi dengan tindakan yang riil misalnya dengan melaporkan ke pihak yang berwajib atau dapat dimulai dari diri kita sendiri dengan tidak mengaksesnya.

Media sosial seperti pisau bermata dua, bisa digunakan untuk mengajak pada kebaikan tapi juga dapat dimanfaatkan kelompok teroris hingga bisnis esek-esek

menjadi bijak

Untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa dijadikan panutan. seharusnya tidak hanya mengajarkan sisi positif namun juga negatif. Karena manusia terdiri dari sisi positif dan negatif.

            lagi pula, bukankah orang yang disebut bijak  adalah yang bisa bergaul erat dengan keduanya sehingga melakoni hidup dengan tenang tanpa bercita-cita untuk menghilangkan yang negatif? Sering saya dinasihati untuk belajar dari kesalahan orang lain dan kesalahan saya sendiri. Saya juga diajari untuk merasa berbahagia kalau jatuh dalam berbagai pencobaan, katanya itu sebuah ujian iman yang nantinya akan menelurkan ketekunan dan bla-bla-bla.

            Nah, kalau begitu adanya, mengapa saya selalu memaksa agar orang selalu benar kalau sebuah kesalahan bisa menjadi sebuah pelajaran? Kalau yang negatif bisa berdampak begitu positifnya?

            Karena kebiasaan memanut satu sisi itulah, saya sering kecewa melihat orang. Apalagi kalau seseorang yang saya panuti bisa begitu negatifnya dan mengecewakan. Maka, secepat kilat mulut saya bernyanyi tanpa diminta. “Kamu tidak bermoral. Dasar tak bisa dipercaya.” Gobloknya saya, sering lupa kalau manusia adalah makhluk yang paling susah dipercaya. Itu mengapa sejak kecil, saya diajarkan hanya untuk memercayai yang Maha Pencipta itu.
8
            Saya bukan deodoran yang bisa setia di setiap saat. Saya tak bisa diharapkan untuk menghilangkan kenegatifan. Kalau saya berteriak karena kesal, kalau saya merasa terancam ada manusia baru di kantor, kalau saya takut, sok suci, sok tahu, mudah melihat borok orang dan susah melihat borok sendiri, tidak percaya diri, tidak menjadi pendengar yang baik dan hanya mau didengarkan saja, kalau saya flirting dan kalau saya merasa hidup itu tak adil  itu adalah sisi minus saya.

            Seorang teman pernah berkomentar. “Gak pa-pa-lah itu wajar kok punya sisi minus. Namanya juga manusia.” Benarkah demikian? Kalau seandainya itu wajar, mengapa saya selalu menghakimi dan menganggap tidak benar yang katanya wajar itu? Jadi, manakah yang wajar? Selalu benar, selalu salah, atau kadang benar kadang salah?

            Kalau Sang Khalik saja disebut Maha Pengampun saya mengartikannya karena Ia mengerti ciptaaannya yang sempurna itu. Mengapa Saya sebagai ciptaannya malah berniat untuk menjadikannya tidak sempurna.

Parodi samuel mulia