Saya sedang duduk di tepi pantai di atas kursipanjang. Deburan air laut terdengar diselingi suara burung. Langit pulau dewata, seperti biasa, biru bersih dan indah. Angin sepoi-sepoi menciumi kulit dan makin membuat rasa malas itu menjadi-jadi.
Entah mengapa, di tengah suasana itu, saya teringat akan pesan dari seorang asisten desainer yang sangat rajin menyirami saya dengan pesan-pesan mulia yang menyemangati dan menggampar pada waktu yang bersamaan.Begini pesan mulia itu. ”I can accept failure but I can not accept not trying”.
Gagal
Kalimat itu menerbangkan saya pada masa lalu yang menjengkelkan karena trauma masa kecil oleh kepala sekolah yang membuat saya merasa ia harus bertanggung jawab terhadap ketidakmampuan saya memiliki kepercayaan diri sekarang ini untuk berani mencoba; karena tak bisa atau tak mau melihat dan menghargai kalau saya ini sudah mencoba dan gagal menjadi murid pandai.
Ada teman saya yang mengomentari saat saya berkeluh kesah soal yang satu ini. ”Kan, kamu sudah dewasa sekarang. Elo dong yang juga bersikap dewasa.” Benarkah demikian? Benarkah saya yang sekarang ini bisa tidak keder hanya karena saya dewasa dan bisa berpikir untuk tidak keder tanpa mengingat bahwa fondasi saya yang sesungguhnya begitu kedernya? Kalau saya tak bisa matematika dan sudah mencoba dan ternyata hasilnya cuma ya, gitu deh, mengapa saya dikelompokkan menjadi murid tidak pandai? Tak hanya guru di sekolah. Ayah saya saja pernah menggertak dan naik pitam karena saya tak bisa menjawab pertanyaan ilmu pengetahuan alam yang disodorkan kepada saya. Saya sudah berusaha, tetapi tak bisa.
Kemampuan saya tak pada yang eksak, tetapi pada yang tidak eksak, yang umumnya sangat tidak dihargai sebagai juara kelas. Namun, sepertinya ia tak mau tahu. Maka, ia berteriak dan saya makin tak bisa menjawab. Kemudian saya berpikir, apakah quote-quote indah yang mengajarkan berpikir positif itu benar adanya? I can accept failure, misalnya. Saya, sih, bisa-bisa saja menerima kegagalan. Itu sudah pasti. Lha, wong hidup saya sendiri, kok. Akan tetapi, masalahnya, apakah guru, kepala sekolah, dan ayah saya mau menerima kalau saya gagal?
Tetap gagal
Menurut pengalaman saya, sih, mereka tidak mau dan tidak bisa menerima. Buktinya? Pengelompokan terhadap murid pandai dan tidak, saya di-kumon-kan (meminjam istilah sekarang) supaya saya bisa sama pandainya dengan anak tetangga dan, kalau sudah semua dilakukan dan saya tetap gagal, mereka kemudian berteriak begini. ”Gitu aja ndak bisa.” Saya jadi teringat akan obrolan dengan seorang teman beberapa hari sebelum peluncuran film perdana pada akhir bulan lalu, di mana saya berperan sebagai bintang utama sebuah film semidokumenter. Begini ia mengirim pesannya. ”Bagaimana, uda siap dihina tanggal 31? Ha-ha sudah siaplah. Orang dari lahir juga selalu dihina-hinakan ha-ha-ha-ha.” Kemudian pesannya dilanjutkan begini. ”Aku sih berdoa sukseslah. You have to start from nothing to become something.”
Saya hanya berpikir, kalau seandainya guru dan ayah saya bisa berpikir seperti teman saya, mungkin saya menjadi orang yang paling berbahagia. Berbahagia karena dihargai karena mencoba dari nol dari nothing, bukan dinilai karena bermain buruk. Dinilai karena saya berani mencoba, bukan takut kalau hasilnya tidak menyenangkan banyak orang dan kemudian merasa tertekan pada akhirnya. I can not accept not trying. Kalau dari kacamata saya sebagai yang tertindas, saya setuju bahwa semua orang harusnya mau melihat bahwa saya udah mencoba. Namun, apakah guru dan kepala sekolah serta ayah saya bisa setuju dengan kalimat itu? Persis seperti quote lain macam begini. The most important thing is not the destination but the journey. Benarkah guru, ayah saya, dan orang lain mau menghargai the journey, dan the trying-nya itu, dan bukan hanya semata-mata destinasinya alias hasil akhirnya? Itu mengapa saya harus berpikir untuk tidak keder meski sejujurnya saya selalu keder. Maka, saya mengerti mengapa kalau dalam seminar saya takut bertanya, takut mengungkapkan ide saya, takut di suruh duduk di depan.
Parodi samuel mulia
Selasa, 28 April 2015
fenomena prostitusi online
Kasus Deudeuh Alfi Sahrin (27) atau @tataa_chubby yang ditemukan tewas di kamar kosnya, Jalan Tebet Utara 1, Nomor 15 C, Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu 11 April malam menguak adanya bisnis prostitusi di media sosial ke ruang publik.
Di Indonesia bisnis esek-esek ini tumbuh seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan praktek prostitusi dari konvensional menjadi online tidak terlepas dari tuntutan) gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik.
Cara yang dilakukan untuk menggunakan jasa seks komersial terbilang sangat mudah, cukup dengan memasukkan kata kunci tertentu di media sosial. Dalam waktu singkat, akun-akun yang menawarkan jasa PSK pun bermunculan. Di akun-akun tersebut, para penyedia jasa menampilkan informasi terkait data diri, seperti tinggi dan berat badan, tarif, alamat, dan prosedur pemesanan.
Terlepas dari berbagai fenomena prostitusi yang muncul dan berkembang dalam masyarakat, faktanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai era postmodern telah memberi andil besar dalam perubahan perilaku masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Pergeseran pola perilaku dalam masyarakat sebagai dampak globalisasi pada kenyataannya sangat berpengaruh di negara berkembang tidak terkecuali Indonesia. Keberadaan situs-situs penjual jasa prostitusi online harus disikapi dengan tindakan yang riil misalnya dengan melaporkan ke pihak yang berwajib atau dapat dimulai dari diri kita sendiri dengan tidak mengaksesnya.
Media sosial seperti pisau bermata dua, bisa digunakan untuk mengajak pada kebaikan tapi juga dapat dimanfaatkan kelompok teroris hingga bisnis esek-esek
Di Indonesia bisnis esek-esek ini tumbuh seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan praktek prostitusi dari konvensional menjadi online tidak terlepas dari tuntutan) gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik.
Cara yang dilakukan untuk menggunakan jasa seks komersial terbilang sangat mudah, cukup dengan memasukkan kata kunci tertentu di media sosial. Dalam waktu singkat, akun-akun yang menawarkan jasa PSK pun bermunculan. Di akun-akun tersebut, para penyedia jasa menampilkan informasi terkait data diri, seperti tinggi dan berat badan, tarif, alamat, dan prosedur pemesanan.
Terlepas dari berbagai fenomena prostitusi yang muncul dan berkembang dalam masyarakat, faktanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai era postmodern telah memberi andil besar dalam perubahan perilaku masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Pergeseran pola perilaku dalam masyarakat sebagai dampak globalisasi pada kenyataannya sangat berpengaruh di negara berkembang tidak terkecuali Indonesia. Keberadaan situs-situs penjual jasa prostitusi online harus disikapi dengan tindakan yang riil misalnya dengan melaporkan ke pihak yang berwajib atau dapat dimulai dari diri kita sendiri dengan tidak mengaksesnya.
Media sosial seperti pisau bermata dua, bisa digunakan untuk mengajak pada kebaikan tapi juga dapat dimanfaatkan kelompok teroris hingga bisnis esek-esek
menjadi bijak
Untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa dijadikan panutan. seharusnya tidak hanya mengajarkan sisi positif namun juga negatif. Karena manusia terdiri dari sisi positif dan negatif.
lagi pula, bukankah orang yang disebut bijak adalah yang bisa bergaul erat dengan keduanya sehingga melakoni hidup dengan tenang tanpa bercita-cita untuk menghilangkan yang negatif? Sering saya dinasihati untuk belajar dari kesalahan orang lain dan kesalahan saya sendiri. Saya juga diajari untuk merasa berbahagia kalau jatuh dalam berbagai pencobaan, katanya itu sebuah ujian iman yang nantinya akan menelurkan ketekunan dan bla-bla-bla.
Nah, kalau begitu adanya, mengapa saya selalu memaksa agar orang selalu benar kalau sebuah kesalahan bisa menjadi sebuah pelajaran? Kalau yang negatif bisa berdampak begitu positifnya?
Karena kebiasaan memanut satu sisi itulah, saya sering kecewa melihat orang. Apalagi kalau seseorang yang saya panuti bisa begitu negatifnya dan mengecewakan. Maka, secepat kilat mulut saya bernyanyi tanpa diminta. “Kamu tidak bermoral. Dasar tak bisa dipercaya.” Gobloknya saya, sering lupa kalau manusia adalah makhluk yang paling susah dipercaya. Itu mengapa sejak kecil, saya diajarkan hanya untuk memercayai yang Maha Pencipta itu.
8
Saya bukan deodoran yang bisa setia di setiap saat. Saya tak bisa diharapkan untuk menghilangkan kenegatifan. Kalau saya berteriak karena kesal, kalau saya merasa terancam ada manusia baru di kantor, kalau saya takut, sok suci, sok tahu, mudah melihat borok orang dan susah melihat borok sendiri, tidak percaya diri, tidak menjadi pendengar yang baik dan hanya mau didengarkan saja, kalau saya flirting dan kalau saya merasa hidup itu tak adil itu adalah sisi minus saya.
Seorang teman pernah berkomentar. “Gak pa-pa-lah itu wajar kok punya sisi minus. Namanya juga manusia.” Benarkah demikian? Kalau seandainya itu wajar, mengapa saya selalu menghakimi dan menganggap tidak benar yang katanya wajar itu? Jadi, manakah yang wajar? Selalu benar, selalu salah, atau kadang benar kadang salah?
Kalau Sang Khalik saja disebut Maha Pengampun saya mengartikannya karena Ia mengerti ciptaaannya yang sempurna itu. Mengapa Saya sebagai ciptaannya malah berniat untuk menjadikannya tidak sempurna.
Parodi samuel mulia
lagi pula, bukankah orang yang disebut bijak adalah yang bisa bergaul erat dengan keduanya sehingga melakoni hidup dengan tenang tanpa bercita-cita untuk menghilangkan yang negatif? Sering saya dinasihati untuk belajar dari kesalahan orang lain dan kesalahan saya sendiri. Saya juga diajari untuk merasa berbahagia kalau jatuh dalam berbagai pencobaan, katanya itu sebuah ujian iman yang nantinya akan menelurkan ketekunan dan bla-bla-bla.
Nah, kalau begitu adanya, mengapa saya selalu memaksa agar orang selalu benar kalau sebuah kesalahan bisa menjadi sebuah pelajaran? Kalau yang negatif bisa berdampak begitu positifnya?
Karena kebiasaan memanut satu sisi itulah, saya sering kecewa melihat orang. Apalagi kalau seseorang yang saya panuti bisa begitu negatifnya dan mengecewakan. Maka, secepat kilat mulut saya bernyanyi tanpa diminta. “Kamu tidak bermoral. Dasar tak bisa dipercaya.” Gobloknya saya, sering lupa kalau manusia adalah makhluk yang paling susah dipercaya. Itu mengapa sejak kecil, saya diajarkan hanya untuk memercayai yang Maha Pencipta itu.
8
Saya bukan deodoran yang bisa setia di setiap saat. Saya tak bisa diharapkan untuk menghilangkan kenegatifan. Kalau saya berteriak karena kesal, kalau saya merasa terancam ada manusia baru di kantor, kalau saya takut, sok suci, sok tahu, mudah melihat borok orang dan susah melihat borok sendiri, tidak percaya diri, tidak menjadi pendengar yang baik dan hanya mau didengarkan saja, kalau saya flirting dan kalau saya merasa hidup itu tak adil itu adalah sisi minus saya.
Seorang teman pernah berkomentar. “Gak pa-pa-lah itu wajar kok punya sisi minus. Namanya juga manusia.” Benarkah demikian? Kalau seandainya itu wajar, mengapa saya selalu menghakimi dan menganggap tidak benar yang katanya wajar itu? Jadi, manakah yang wajar? Selalu benar, selalu salah, atau kadang benar kadang salah?
Kalau Sang Khalik saja disebut Maha Pengampun saya mengartikannya karena Ia mengerti ciptaaannya yang sempurna itu. Mengapa Saya sebagai ciptaannya malah berniat untuk menjadikannya tidak sempurna.
Parodi samuel mulia
sejarah KAA
Negara Republik Indonesia pernah dijuluki sebagai ’Macan Asia’ saat dipimpin oleh Presiden Soekarno. Saat itu soekarno mencetuskan ide untuk menghapuskan penjajahan di kawasan asia afrika dan melawan kolonialisme serta neokolonialisme dari blok barat dan blok timur. Cita cita ini lalu dituangkan dalam konfrensi asia afrika.
Dalam pembukaan KAA di bandung tahun 1955 Presiden Sukarno dengan penuh semangat mengajak asia dan afrjka untuk bangkit dan melepaskan diri dari kekuatan kolonialisme
Konferensi ini sontak mengubah pandangan dunia, bahwa di dunia ini selain ada kubu Amerika Serikat dan kubu Uni Soviet masih ada kelompok dunia ketiga yaitu non blok
Konferensi Asia Afrika di Bandung berhasil meraih kesuksesan baik dalam merumuskan masalah umum, menyiapkan pedoman operasional kerjasama antarnegara Asia-Afrika, serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Hasil dari pertemuan tersebut kemudian dikenal sebagai “10 Dasasila Bandung” dimana di dalamnya memuat cerminan penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia.
Peringatan 60 tahun konfrensi asia afrika diharapkan tidak hanya dijadikan romantisme masa lalu. Yang hanya sekedar pesta pora. Namun, harus memberikan kemajuan yang kongkrit bagi negara peserta.
Jika 60 tahun yang lalu isu KAA memperjuangkan kemerdekaan negara dari kolonialisme Barat dan Timur, kini KAA harus lebih fokus membahas peningkatan kesejahteraan ekonomi, kerja sama militer, Sosial dan Budaya, serta menghormati Hukum dan kewajiban-kewajiban Internasional.
Peringatan kaa bisa dijadikan momentum yang tepat untuk menyerukan solidaritas internasional dan persatuan rakyat, menuju gerak4an pembebasan nasional melawan dominasi kapitalisme monopoli
Dalam pembukaan KAA di bandung tahun 1955 Presiden Sukarno dengan penuh semangat mengajak asia dan afrjka untuk bangkit dan melepaskan diri dari kekuatan kolonialisme
Konferensi ini sontak mengubah pandangan dunia, bahwa di dunia ini selain ada kubu Amerika Serikat dan kubu Uni Soviet masih ada kelompok dunia ketiga yaitu non blok
Konferensi Asia Afrika di Bandung berhasil meraih kesuksesan baik dalam merumuskan masalah umum, menyiapkan pedoman operasional kerjasama antarnegara Asia-Afrika, serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Hasil dari pertemuan tersebut kemudian dikenal sebagai “10 Dasasila Bandung” dimana di dalamnya memuat cerminan penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia.
Peringatan 60 tahun konfrensi asia afrika diharapkan tidak hanya dijadikan romantisme masa lalu. Yang hanya sekedar pesta pora. Namun, harus memberikan kemajuan yang kongkrit bagi negara peserta.
Jika 60 tahun yang lalu isu KAA memperjuangkan kemerdekaan negara dari kolonialisme Barat dan Timur, kini KAA harus lebih fokus membahas peningkatan kesejahteraan ekonomi, kerja sama militer, Sosial dan Budaya, serta menghormati Hukum dan kewajiban-kewajiban Internasional.
Peringatan kaa bisa dijadikan momentum yang tepat untuk menyerukan solidaritas internasional dan persatuan rakyat, menuju gerak4an pembebasan nasional melawan dominasi kapitalisme monopoli
ironi nenek asyani
Drama kasus nenek asyani yang mengharu biru, memasuki episode baru. Tepatnya pada hari kamis 23 april 2015 majelis hakim memvonis nenek asyani terbukti bersalah mencuri 7 batang kayu milik perhutani. Hal ini sangat kontras dengan akal sehat, bagaiman mungkin seorang nenek berusia 70 tahun bisa mencuri dan mebawa 7 batang kayu yang di jaga ketat oleh polisi hutan.
Yang lebih ironis lagi nenek dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dan denda 500 juta rupiah. Vonis ini sontak membuat nenek asyani histeris. Ia bingung bagaimana bisa mendapatkan 500 juta mengingat profesinya yang hanya tukang pijit. Tubuh nenek yg mulai sakit sakitan sehingga tidak memungkinkan menjalani hukuman penjara selama 1 tahun.
Kasus “Nenek Asyani” hanyalah butir kecil di pucuk “gunung es” sengketa agraria di Indonesia. Berdasarkan Data perhutani 1 juta hektar hutan di jambi habis dijarah. Bahkan akibat ulah para oknum ini, penduduk asli jambi (orang rimba) kelaparan hingga harus mengemis di kota. Namun sayangnya kasus besar yg berdampak signifikan pada banyak orang ini justru tidak ditindak tegas
Potret penegakkan hukum di Indonesia sungguh memprihatinkan. Padahal uud 45 menegaskan setiap orang berkedudukan sama dimata hukum. Namun, penegakan hukum yang ada baru sebatas seolah-olah. Maksudnya, seolah-olah ada penegakan hukum, padahal tidak. Seolah-olah ada demokrasi, padahal tidak. Seolah-olah ada keadilan sosial, padahal tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)