Jumat, 12 September 2014

Kemana Retribusi dari Perpakir Liar



Denda sebanyak Rp 500 ribu bagi para pelaku parkir liar di Jakarta berlaku mulai hari Senin (8/9). Operasi penertiban awal  dilakukan di lima titik, yaitu Jatinegara, Marunda, Tanah Abang, Kalibata, dan Stasiun Jakarta Kota.

Kendaraan yang tertangkap saat operasi penertiban parkir liar nantinya akan diderek dan ditempatkan di tempat penampungan yang disediakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Jika pengendara tidak segera mengambil kendaraan dan menginapkannya di tempat penampungan, mereka akan dikenakan biaya tambahan. Biaya ini sebesar Rp 500 ribu per hari.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pemilik kendaraan yang terjaring dalam operasi penertiban ini. Pertama, pemilik kendaraan harus melapor lebih dulu kepada Dishub melalui pesan singkat (SMS) ke nomor 087799200900 dengan format 'Parkir Nomor Polisi'. Pemilik  kendaraan kemudian akan diberitahu bagaimana tata cara pembayaran denda. Setelah melakukan pembayaran, pemilik akan diberitahu dimana harus mengambil kendaraannya.

Operasi penertiban parkir liar yang berlaku ini dilakukan setelah adanya instruksi dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.  Ia merujuk pada Perda No. 3 tahun 2012 tentang Retribusi Daerah, yang mana memberi wewenang kepada Pemprov,  untuk menarik retribusi sebesar Rp 500 ribu dari setiap kendaraan yang diderek.

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Ahok ini juga menjelaskan pembayaran denda parkir liar melalui bank akan membuat pemilik kendaraan menjadi lebih mudah. Hal ini karena pembayaran tidak perlu  dilakukan langsung pada Dishub, namun dapat melalui   (ATM) bank terdekat.  Dengan pembayaran lewat bank,  oknum-oknum yang mungkin memanfaatkan uang denda tersebut dapat diminimalisir.

Setelah mekanisme penerimaan retribusi parkir liar dibenahi secara signifikan, pertanyaannya kemudian bagaimana dengan penyerapannya? Digunakan untuk apa uang retribusi ini? dan bagaimana pula dengan pengawasannya ?


Uang retribusi digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari retribusi. Retribusi juga digunakan untuk mensubsidi barang-barang yang sangat dibutuhkan masyarakat dan juga membayar utang negara ke luar negeri. Pajak juga digunakan untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baik dalam hal pembinaan dan modal.

Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan. Disamping fungsi penerimaan tadi,  pajak juga melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada masyarakat yang kemampuannya lebih rendah.

Oleh karena itu tingkat kepatuhan masyarkat dalam melaksanakan kewajiban membayar retribusi seperti retribusi parkir liar merupakan syarat mutlak untuk tercapainya fungsi redistribusi pendapatan. Sehingga pada akhirnya kesenjangan ekonomi dan sosial yang ada dalam masyarakat dapat dikurangi secara maksimal.

Kamis, 31 Juli 2014

Belanjar Bicara


Bersama seorang teman, saya menikmati sore hari dengan duduk-duduk sambil mengobrol di kedai kopi. Di mal tentunya. Salah satu obrolan itu begini. Teman saya kesal karena salah satu temannya kalau berbicara selalu berkesan show off. ”Masak doi ngomong gini. Mobil BM gue lagi dipinjem saudara ke Bandung,” jelasnya. ”Emang penting nyebutin merek mobil? Enggak bisa ya kalau bilang gini aja...mobil saya sedang dipinjam saudara ke Bandung? Mang gue peduli mobil doi apa?” ”Gue tahu sih doi mang kaya raya.”

Pohon dan buahnya

Dalam hati saya terpingkal-pingkal. Mereka yang kaya cukup pantas berbicara seperti itu, laaa...saya ini kaya saja tidak, kalau bicara, yaaa...kayak gitu itu. Baru saja saya terpingkal, teman saya nyerocos lagi. ”Mbok enggak usah show off. Kalau nanti ditanya saja baru menjelaskan. Kalau enggak ditanya, biasa aja napa? Emang susah ya kalau ngomong keluar kota aja, enggak usah ke luar negeri? Maksud gue, kalaupun elo ke luar negeri, emang beda rasanya kalau hanya mengucap keluar kota?

Nurani saya langsung menyambar seperti biasa. ”Ya iyalaaaahhhhh...” Tetapi begitulah kenyataan yang ada. Meski saya pikir tak semua orang kalau bicara punya niat show off. Pemikiran itu saya lontarkan kepada teman saya itu. Belum selesai menjelaskan, suaranya menyambar. ”Gini ya, cong...kalau elo tu orangnya rendah hati, kalau niat elo dari lubuk hati yang terdalam emang enggak mau show off, yang keluar yaaa...enggak bakalan sesuatu yang show off. Ngerti?” Saya diam seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.

”Liat elo aja. Waktu elo difoto salah satu majalah interior, elo bilang elo pakai kemeja dan kemben di atasnya. Menurut elo, niat elo apa? Pakai baju kayak gitu kalau enggak mau cari sensasi,” katanya lagi. 

Setelah redam emosinya, saya menjelaskan kalau saya itu tak mencari sensasi. Dia meragukan penjelasan itu. ”Ra percoyo aku,” begitu jawabnya singkat. ”Tidak ada pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak ada orang yang katanya punya niat tidak show off, menghasilkan kalimat-kalimat dan perilaku yang show off,” lanjutnya lagi.

Ia tak percaya, kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya percaya pada apa yang diucapkan tadi. Bahwa saya tak mencari sensasi? Kalau mau jujur, ada sekian persen memang mau cari sensasi saat saya memadukan kemeja pria dengan kemben. Saya bisa menggunakan alasan, saya manusia kreatif, mau berpikir out of the box. Tetapi nurani sendiri tentu tak bisa saya kibuli.

Mulut dan isinya
Kadang ucapan yang sepertinya show off itu katanya bisa jadi menumbuhkan kepercayaan orang lain atas diri kita. Seperti kalau punya satu toko, beda kesan atau respons yang diberikan kalau punya sekian toko. Secara finansial, mengurusi satu toko sangat tidak efektif dibandingkan punya sekian toko. Ya, meski toko-tokonya itu masih dalam berutang dengan bank. Itu bukan yang hendak saya bicarakan.

Mulut saya sudah lama dikenal dan dianggap jahat, bahkan sampai sekarang ini. Menusuk seperti belati. Kalimat-kalimat yang menghambur keluar dari mulut itu seringkali tak senonoh. Tak dipikirkan terlebih dahulu. Sangat benar, saya ini sering kali nyerocos dulu baru kemudian berpikir akibatnya.

Saya juga manusia yang kalau sudah berbicara lupa berhenti, dan yang paling buruk dari semua itu, saya tidak memberi kesempatan orang memberi respons atau menjelaskan maksud dan isi kepalanya. Singkat cerita, saya ini tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan lawan bicara, yang penting tujuan saya tercapai.

Soal menggunakan kalimat atau kata yang tepat, juga tak banyak saya pikirkan. Satu hal lagi yang harus saya latih dalam urusan belajar berbicara adalah bijak memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Bijak melihat situasi dan memedulikan kondisi orang lain. Saya tak bisa langsung nyerocos kapan saja saya berkehendak. Dulu saya pikir, orang itu kadang sepantasnya memang dicerocosi tak perlu melihat situasi.
Saya salah besar. Menyerocosi itu bukan bertujuan memuaskan kekesalan dan merasa lega sendiri, tetapi membuat orang naik kelas, artinya ia tahu kesalahan dan diperbaiki. Sehingga kelegaan bisa dinikmati oleh dua belah pihak. Maka, katanya tak perlu membuang energi untuk berteriak dan meninggikan suara. Itu melelahkan. Katanya loh.

Dan tentu di atas segala-galanya, isi yang maha penting. Saat mulut mulai ”bernyanyi” itu tak hanya mencerminkan isi, tetapi mencerminkan siapa saya yang sesungguhnya. Yaaa...latar belakang, tingkat kedewasaan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup.
Maka akan menjadi aneh bin ajaib kalau nama saya ada mulianya, sementara cara saya berbicara dan isi yang disampaikan jauh dari makna mulia. 

(Sumber : KOMPAS, Karya Samuel mulia pada 23-1-2011)

Benarkah Malu Betanya Sesat di Jalan ?


Nurani saya kemudian mengingatkan pada sebuah peribahasa berbunyi: malu bertanya sesat di jalan. Benarkah karena saya malu kemudian saya tersesat? Saya pikir lagi dengan IQ jongkok. Kalau saya malu menanyakan nama seseorang, saya bisa minta tolong lewat teman. Masalahnya, akan lebih lama menerima hasilnya ketimbang kalau saya tanya langsung kepada yang bersangkutan.
Jadi, malu hanya memperlambat sampainya informasi. Yang membuat saya tersesat adalah menanyakan pada sumber atau alamat yang salah. Kalau saya menanyakan IHSG kepada orang gila, saya akan tersesat. Saya tanya sesuatu kepada manusia yang pengetahuannya seimprit-imprit, saya bakal tersesat. Sudah seimprit, dimanipulasi pula. Maka saya makin tersesat.
Tersesat itu karena yang ditanya bisa jadi mulai berpikir, jawaban apakah yang bisa menguntungkan saya tanpa memedulikan kerugian yang bakal diterima oleh penunggu jawaban. Jadi, malu bertanya tak akan sesat di jalan, tetapi menanyakan kepada manusia yang pengetahuan dan kondisi jiwanya tidak sehat yang akan menyesatkan.
Setelah malam itu, saya membaca tulisan begini di social media . Orang tua marah itu hanya atas dasar demi kebaikan kita. Saya kesetrum dan berpikir secara sederhana karena kemampuan otaknya yaa… juga sederhana. Marah itu tidak baik. Titik. Mau itu dilakukan oleh orang tua kek, setengah tua kek, setengah muda kek, marah adalah perilaku yang tidak baik. Mengapa kalau orang tua marah selalu dikonotasikan baik?

*Tulisan Samuel Mulia, yang layak di baca untuk mereka yang suka salah memahami maksud dari suatu pribahasa 

Jumat, 25 Juli 2014

Makna Idul Fitri atau Lebaran



Idul Fitri selalu hadir sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan setiap tahun. Sudah barang tentu kita semua bersama seluruh kaum muslimin senantiasa menyambut dan merayakannya dengan rasa penuh kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan dan kesuka citaan. Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Idul Fitri?

Mari kita lihat sejenak beragam makna dan penyikapan yang ada di masayarakat terhadap hari raya idul fitri. Diantara masyarakat ada yang merayakan lebaran dengan  pakaian baru, sepatu baru, perhiasan baru dan penampilan baru. Belanja pakaian dan makanan untuk hari raya tampaknya seperti suatu keharusan yang tak bisa di tawar tawar lagi. Lantas apakah lebaran  cukup dimaknai dengan sesuatu yang bju baru ? Masih perlukah mengenakan pakaian baru saat lebaran di tengah kondisi ekonomi yang tak stabil seperti sekarang?
Lebaran sesungguhnya bukan hanya memakai baju baru saja. Lebaran juga bukan sekadar sholat ‘Id di Masjid, makan ketupat, berkumpul bersama keluarga dan saling bersalam-salaman.  Tapi lebih dari itu semua.


IDUL FITRI memiliki beberapa makna yang dalam.

Pertama, pada hari itu umat Islam telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa. Berarti sudah memenangkan perang melawan hawa nafsu. Karena itu mereka bergembira dan merayakannya. Mereka telah meningkatkan akhlak dan kepribadiannya dengan ibadah puasa tersebut.

Kedua, mempererat ikatan persaudaraan. Pada saat-saat ini ikatan persaudaraan terasa begitu kokoh. Terasa ada sesuatu yang mempersatukan jiwa kita. Pada hari-hari lain, mungkin karena sibuk, kita jarang berkesempatan mengadakan reuni keluarga. Tapi di saat Lebaran ini, kita sengaja menyempatkan diri. Mulai dari- kakek-nenek, ayah-ibu, anak, menantu, cucu, sampai cicit berkumpul pada hari itu. Saling memaafkan bisa dilakukan kapan saja . Namun maaf-memafkan di hari raya itu mempunyai nilai tersendiri. Penuh haru dan hati yang lega.

Ketiga, rasa sosial, rasa kasih terhadap sesama. Tidaklah sempurna iman seorang Muslim, bila tidak mengasihi orang lain seperti mencintai dirinya. Itulah, maka Islam mewajibkan membayar zakat. Di samping kita masih berjuta yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Berdasarkan hal-hal di atas, terasa bahwa lebaran ini tidak akan menumbuhkan penghayatan yang sama intensitasnya pada diri setiap orang. Bagi mereka yang berpuasa sebulan penuh dengan dilandasi iman dan ikhlas sebagi upaya untuk memuliakan pribadi mereka masing-masing sebagai manusia, lebaran ini bisa diahayati dengan mendalam.

Makna paling dalam yang dibawa Ramadhan dan Idul Fitri tidak boleh luput dan hilang dalam kegembiraan Idul Fitri. Gembiranya Idul Fitri hendaknya dimaknai sebagai peningkatan kesucian diri dan kemauan untuk hidup lebih baik lagi. Pesan spiritual yang ditanamkan selama Ramadhan tidak boleh mati oleh hura-hura Idul Fitri ataupun mudik. Silaturahmi Idul Fitri nan ikhlas, tanpa motif keuntungan sesaat, popularitas dan sejenisnya, pastilah akan meneguhkan jati diri bangsa. Selamat Idul Fitri, kembali ke jati diri, dan terus dalam kefitrahan.

Rabu, 16 Juli 2014

Membuat Mudik menjadi nyaman dan Selamat



Jelang Hari Raya Idul Fitri, fenomena “mudik Lebaran” ke kampung halaman selalu mewarnai. Mudik Lebaran tidak lagi sekadar pulang kampung, melainkan juga prosesi ritual untuk melepaskan rindu dan melambangkan  keterikatan hidup manusia atas komunitas dan sejarahnya.  Tradisi mudik dapat membudaya dan kian mapan karena disirami oleh nilai-nilai religius. Rupanya penilaian JJ Rousseau terbukti benar,  sebuah tradisi yang ditopang oleh ajaran agama akan sanggup bertahan dan mengakar kuat dalam mozaik kehidupan masyarakat.

Perjuangan pemudik untuk mencapai kampung halaman saat mudik Lebaran bukan tanpa risiko. Bagi mereka yang mudik dengan menunggang sepeda motor lebih beresiko jika dibandingkan dengan mereka yang menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum.

Fakta memperlihatkan, pada musim mudik Lebaran tahun 2013, Angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor mencapai 71%. Artinya, dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan, si kuda besi masih mendominasi. Karena itu, para pemudik yang terpaksa bersepeda motor harus ekstra hati hati. Persiapan mesti sematang mungkin, mulai dari mengecek kondisi mesin seperti busi, kelistrikan (lampu-lampu), Ban, dan juga sistem pengereman.  Tanpa perhitungan yang matang, bukannya pulang kampung  kita justeru bisa terjebak dalam petaka jalan raya.

Selain persiapan kendaraan, kita juga perlu mempersiapakan diri agar badan tetap fit dan tidak mudah lelah saat mudik lebaran. Persiapan ini juga tak kalah pentingnya, karena jika badan tidak fit atau sudah lelah tentu akan sangat berbahaya ketika dipaksakan untuk tetap mengemudikan kendaraan.  

Berikut ini beberapa tips agar selamat saat mudik :
1.  Jaga kesehatan fisik. Hindari bersepeda motor dalam kondisi sakit.
2. Stabilitas emosi. Keletihan, dehidrasi, debu, asap, cuaca panas, kemacetan, hingga kebisingan suara kendaraan, bisa memicu stress. Kondisi tersebut bisa memicu emosi tidak stabil. Redam emosi berlebihan dengan tetap menjaga kebugaran
3.Mulailah perjalanan lebih awal sebelum jalanan padat kendaraan. Mengemudikan kendaraan dalam keadaan padat lalu lintas tentu menyebabkan badan cepat lelah.
4. Jika perjalanan anda cukup jauh, maka beristirahat setiap 2 jam sekali atau setelah menempuh jarak sekitar 240 Km.
5. Untuk mengusir rasa bosan, boleh-boleh saja memutar music saat mengemudi. Namun hindari music yang monoton.
6. Karena masih dalam keadaan berpuasa maka waspadalah terhadap radiasi sinar matahari. Sinar matahari tentu membuat kita cepat dehidrasi yang membuat kemampuan mengemudi berkurang.
7. Jangan mengemudi sendirian, harus ada cadangan. Hal ini sangat penting karena kemampuan seseorang dalam mengemudi maksimal 12 jam. Jadi jika anda dari Jakarta ingin menuju Surabaya maka seharusnya anda membawa pengemudi cadangan.
8. Tetaplah mengemudi secara sopan, jangan ugal-ugalan karena pengemudi lain juga berpuasa. Hargailah sesama pengemudi saat di jalan raya.

Mudik yang mencerminkan fitrah kemanusiaan, bukan perjalanan ugal-ugalan. Maka mudik harus mencerminkan ketaatan pada aturan hukum, karena dengan ketaatan itulah ciri kemanusiaan dan fitrah akan hadir. Menaati peraturan lalu lintas adalah cermin budaya bangsa. Lebaran tahun ini harus tetap bernuansa religius di tengah kesulitan hidup yang terus melonjak akibat kenaikan harga Listrik.

Cinta kasih dalam bingkai religius sebagai dasar pengembangan tradisi mudik lebaran, akan lebih memperkuat Silaturahmi antarmanusia. Keselamatan pemudik akan memperkuat ikatan batin dengan sanak keluarga di kampung. Di dalamnya butuh perasaan kebersamaan dan kekeluargaan dalam satu kesatuan bangsa