Minggu, 10 Juli 2016

Membaca fikiran orang koma

Ribuan pasien terperangkap dalam keadaan vegetatif antara hidup dan mati. Tiga orang ilmuwan sedang bekerja untuk membebaskan mereka, seperti dilaporkan Roger Highfield. 
"Bayangkan saja, Anda terbangun, tapi terkunci di dalam kotak," kata Adrian Owen. 
"Kotaknya pas ukurannya, sampai ke jari tangan dan jari kaki. Ini kotak yang aneh karena Anda bisa mendengar semua yang ada di sekeliling Anda, tetapi suara Anda tidak bisa terdengar. Malah kotak ini begitu pas di wajah dan bibir Anda sehingga Anda tidak dapat berbicara, atau menimbulkan suara." 
"Mula-mula, ini rasanya seperti permainan. Lalu Anda mulai sadar. Anda dengar dan melihat keluarga Anda meratapi nasib Anda. Anda merasa kedinginan, lalu kepanasan. Anda selalu merasa haus. Teman dan keluarga mulai jarang menengok. Pasangan Anda meninggalkan Anda. Dan tak ada satu hal pun yang bisa Anda lakukan," kata Owen. 

Owen dan saya sedang berbicara di Skype. Saya berada di London, Inggris, dan dia berada di London lain yang letaknya lima ribu enam ratus kilometer, di Universitas Western Ontario, Kanada. 
Rambut Owen yang kemerah-merahan dan janggut yang dipotong pendek terlihat besar di layar saya, saat ia dengan bersemangat menggambarkan penderitaan mereka yang tak bisa bersuara: para pasiennya. 

Orang-orang yang berada dalam "keadaan vegetatif" memang bangun terjaga tapi tidak sadar. Mata mereka bisa terbuka dan kadang-kadang melihat ke mana-mana. Mereka dapat tersenyum, memegang tangan orang lain, menangis, mengerang atau mendengus. 
Tetapi mereka tidak peduli dengan tepukan tangan, tidak dapat melihat atau memahami pembicaraan. Gerakan mereka tidak bermakna tapi sekadar reflektif.
Mereka kelihatannya tidak lagi memiliki ingatan, emosi dan tujuan, atau hal-hal yang membuat kita semua menjadi satu individu. 
Benak mereka tetap tertutup rapat. Walau ketika kelopak mata berkedip terbuka, kita selalu bertanya-tanya apakah di balik itu ada kesadaran.
Satu dasawarsa yang lalu, jawabannya pasti suram dan jelas tidak ada. Tidak lagi ada. 
Namun dengan menggunakan pemindai otak, Owen menemukan sejumlah orang yang terperangkap dalam tubuh mereka dapat berpikir dan merasa sampai ke tingkat tertentu. 
Jumlah pasien yang mengalami gangguan kesadaran meningkat besar dalam dasawarsa terakhir ini, ironisnya karena dokter sudah makin pandai menyelamatkan pasien yang mengalami luka-luka berat. 

Dewasa ini, mereka yang mengalami benak yang terperangkap, rusak dan menurun dayanya, menjadi penghuni banyak klinik dan rumah pengasuhan di seluruh dunia. 
Di Eropa saja jumlah kasus koma diperkirakan mencapai 230.000 per tahun, dan 30.000 dari angka itu akan tetap hidup merana dalam keadaan vegetatif permanen.
Mereka menjadi artefak paling tragis dan mahal dari perawatan intensif modern. Owen sangat paham tentang hal ini.
Pada tahun 1997, seorang teman dekatnya berangkat kerja seperti biasa naik sepeda. Anne (bukan nama sebenarnya) memiliki satu titik lemah di pembuluh darah di kepalanya, yang dikenal juga sebagai aneurisma otak. Baru lima menit mengayuh sepeda, aneurismanya pecah dan ia menabrak pohon. 
Ia tidak pernah sadar lagi. 
Tragedi ini membuat Owen terbungkam, namun kecelakaan yang dialami Anne ini membentuk sisa hidupnya. 
Ia mulai bertanya-tanya apakah ada cara untuk menentukan mana dari pasiennya yang berada dalam keadaan koma dan tak sadar, mana yang tidak sadar dan mana yang di tengah-tengah? 
Tahun itu, dia pindah ke Unit Kognisi dan Otak di Dewan Riset Medis di Cambridge, tempat para peneliti menggunakan berbagai macam teknik pemindaian. 
Salah satu tekniknya, yaitu positron emission tomography (PET), menyoroti berbagai macam proses metabolisme di otak, seperti penggunaan oksigen dan gula. 
Teknik lainnya, yang dikenal sebagai functional magnetic resonance imaging(FMRI), dapat mengungkapkan pusat-pusat yang aktif di otak dengan mendeteksi hentakan kecil dalam aliran darah yang terjadi ketika pikiran menderu. 
Owen bertanya-tanya apakah dia dapat menggunakan teknik-teknik ini untuk menjangkau para pasiennya, seperti temannya, yang terperangkap di antara kepekaan dan kehampaan. 

Keputusan dengan sadar 
Setengah abad lalu, jika jantung Anda berhenti berdenyut, Anda dapat dinyatakan meninggal meskipun Anda mungkin sepenuhnya sadar ketika dokter mengirim Anda ke kamar mayat. 
Hal ini mungkin dapat menjelaskan cerita-cerita buruk sepanjang sejarah mengenai mereka yang "bangkit dari kematian". Yang terakhir pada tahun 2011, dewan kota di Provinsi Malatya di Turki tengah mengumumkan mendirikan kamar mayat dengan sistem peringatan dan pintu ruang pendingin yang dapat dibuka dari dalam. 
Masalahnya adalah definisi ilmiah dari "kematian" tetap tak bisa dipecahkan sama halnya seperti definisi "kesadaran". Hidup tidak lagi dikaitkan dengan memiliki jantung yang berdenyut, kata Owen. 
Jika saya memiliki jantung buatan, apakah artinya saya mati? Jika saya menggunakan mesin pendukung hidup, apakah artinya saya mati? Apakah ketidakmampuan memelihara hidup secara mandiri merupakan definisi yang cukup masuk akal untuk kematian? 
Tidak, karena jika begitu maka kita semua akan "mati" dalam masa sembilan bulan sebelum dilahirkan. 
Isu ini menjadi makin menjadi pelik ketika kita memikirkan mereka yang terperangkap di dunia yang temaram antara kehidupan normal dan kematian, dari mereka yang masuk ke ketidaksadaran dan terbangunkan, yang terperangkap dalam "keadaan sadar secara minimal", sampai mereka yang "rusak" parah dalam keadaan vegetatif atau koma. 
Pasien-pasien ini pertama kali muncul setelah dikembangkannya alat pernapasan buatan di tahun 1950-an di Denmark, sebuah penemuan yang mendefinisikan kembali akhir masa kehidupan dalam ide mengenai kematian otak dan menciptakan bidang khusus perawatan intensif. 
Di sana, pasien yang tidak dapat memberikan respons dan yang berada dalam koma yang kelihatannya tidak akan bisa bangkit lagi dianggap sebagaivegetables (sayuran) atau jellyfish (ubur-ubur). 
Seperti biasanya ketika mengobati pasien, definisi merupakan hal penting: pemahaman mengenai kemungkinan sembuh, manfaat perawatan dan lain-lain semuanya tergantung pada diagnosis yang tepat. 

Pada tahun 1960-an, neurolog Fred Plum di New York dan ahli bedah saraf Bryan Jennett di Glasgow melakukan pekerjaan perintis untuk memahami dan mengkategorikan gangguan-gangguan kesadaran. 
Plum menciptakan istilah "locked-in syndrome", di mana pasien dalam keadaan terjaga tetapi tidak dapat bergerak atau berbicara. 
Dengan Plum, Jennett menyusun Skala Koma Glasgow untuk menilai kedalaman koma, dan Jennett kemudian menyusun juga Skala Hasil Glasgow untuk mengukur tingkat pemulihan, dari kematian sampai cacat ringan. 
Mereka bersama-sama mengesahkan istilah "keadaan vegetatif terus menerus" untuk para pasien yang, menurut mereka, "memiliki masa-masa terbangun ketika mata mereka terbuka dan bergerak, daya tanggap mereka terbatas pada gerakan anggota tubuh postural dan refleks primitif, dan mereka tidak pernah bicara". 
Pada tahun 2002, Jennett termasuk dalam kelompok neurolog yang memilih istilah "sadar secara minimal" untuk menggambarkan mereka yang kadang-kadang terbangun dan yang setengah terbangun, yang menunjukkan tanda-tanda kesadaran tak menentu sehingga satu saat mereka dapat mengikuti instruksi yang sederhana dan waktu lainnya tidak bisa. 

    Bahkan sampai hari ini pun, kita masih saja beragumentasi mengenai siapa yang sadar dan siapa yang tidak. 

    Pindaian pengungkap informasi 
    Kate Bainbridge, seorang guru sekolah berusia 26 tahun, jatuh koma tiga hari setelah ia menderita penyakit yang mirip dengan flu. 
    Otaknya terkena radang, bersama juga dengan bagian atas unsur primitif tulang belakang, yaitu batang otak, yang mengatur siklus tidur. 
    Beberapa minggu setelah infeksinya sembuh, Kate terjaga dari koma tapi didiagnosis sebagai berada dalam keadaan vegetatif. 
    Untungnya, dokter perawatan intensif yang bertanggung jawab atas dirinya, David Menon, juga merupakan Kepala Peneliti di Wolfson Brain Imaging Centre yang baru buka di Cambridge, di mana Adrian Owen kemudian bekerja. 
    Tahun 1997, empat bulan setelah didiagnosis sebagai vegetatif, Kate menjadi pasien pertama dalam keadaan vegetatif yang diteliti oleh kelompok Cambridge ini. 
    Hasilnya, yang diterbitkan tahun 1998, benar-benar tak terduga dan luar biasa.
    Bukan saja Kate bereaksi pada wajah: respons otaknya pun tak bisa dibedakan dengan otak para sukarelawan penelitian yang sehat. 

      Pindaian otaknya memperlihatkan cipratan warna merah, yang menandai aktivitas otak di bagian belakang otaknya, di bagian yang bernama fusiform gyrus, yang membantunya mengenali wajah orang. 

      Kate menjadi pasien pertama yang pindaian otaknya yang canggih (dalam kasus ini menggunakan PET) mengungkapkan "kesadaran terselubung". Tentu saja, apakah responsnya itu merupakan refleks atau tanda kesadaran, pada saat itu, masih diperdebatkan. 
      Hasil ini sangat penting bagi sains tapi juga bagi Kate dan orang tuanya. "Adanya proses kognitif yang masih terjaga baik membasmi nihilisme yang biasanya menguasai pengelolaan terhadap pasien semacam itu pada umumnya, dan mendukung keputusan untuk terus mengobati Kate dengan agresif," kata Menon mengenang kejadian itu. 
      Kate akhirnya bangkit dari penderitaannya, enam bulan setelah diagnosis dikeluarkan. 
      "Mereka mengatakan saya tidak bisa merasakan sakit," kata Kate. "Mereka salah."
      Kadang-kadang ia menjerit, tetapi perawat mengiranya hanya gerakan refleks. Kate merasa dilalaikan dan tak berdaya. Staf di rumah sakit tidak tahu seberapa menderitanya ia dalam perawatan mereka. 
      Kate merasa fisioterapi menakutkan: para perawat tidak pernah menjelaskan apa yang mereka lakukan kepadanya. Ia merasa takut ketika mereka membuang lendir dari paru-parunya. 
      "Saya tidak bisa menceritakan betapa menakutkannya, terutama ketika penyedot masuk ke mulut," kata Kate dalam tulisannya. Di satu saat, rasa sakit dan putus asanya menjadi begitu besar sehingga ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menahan napas. 
      "Saya tidak bisa menghentikan hidung saya untuk bernapas, usaha saya tidak berhasil. Tubuh saya tampaknya tidak ingin mati." 
      Kate mengatakan kesembuhannya tidak langsung seperti ketika kita menyalakan lampu, tetapi perlahan-lahan. Diperlukan waktu lima bulan sampai ia bisa tersenyum. 
      Namun saat itu ia sudah kehilangan pekerjaannya, indra penciuman dan indra perasanya, dan banyak hal lain yang seharusnya menjadi masa depannya. 
      Kini Kate tinggal lagi bersama orang tuanya. Ia masih sangat tak mampu bergerak dan memerlukan kursi roda. 
      Perlahan-lahan Kate mulai berbicara lagi dan, walaupun masih marah mengenai caranya diperlakukan ketika ia berada dalam keadaan paling rentan, ia tetap berterima kasih kepada mereka yang membantu benaknya untuk melarikan diri dari perangkap. 
      Di kampus di selatan Liege yang seperti hutan, Steven Laureys meneliti para pasien vegetatif dalam penelitian yang sudah berlangsung beberapa decade. 
      Bekerja di sana sebagai bagian dari Cyclotron Research Centre di tahun 1990-an, Laureys merasa terkejut ketika pindaian otak PET mengungkapkan bahwa pasien dapat memberi tanggapan ketika nama mereka disebut: suara yang mengandung arti memproduksi perubahan dalam aliran darah di korteks utama pendengaran. 
      Sementara itu, di sisi lain Atlantik, Nicholas Schiff menemukan bahwa dalam otak yang rusak parah masih ada bagian yang bekerja, gugusan sisa-sisa aktivitas saraf. Apakah artinya ini? 

      Mau main tenis? 
      Pada saat itu, dokter mengira mereka sudah mengetahui jawabannya, bahwa tidak ada pasien dalam keadaan vegetatif terus menerus yang sadar. 
      Tidak peduli bahwa menatap gambar membuat bagian otak menyala, sanggah mereka: bahkan pada kera yang dibius pun itu bisa terjadi. 
      Berdasarkan pengalaman sebelumnya, otak yang kekurangan oksigen akibat serangan jantung atau stroke tidak mungkin bisa sembuh jika tidak sembuh dalam beberapa bulan pertama. 
      Para pasien ini mengalami nasib yang dianggap banyak orang lebih buruk dari kematian, yaitu secara fungsional mereka sudah tidak berotak tapi tidak mati. 
      Dokter, dengan niat baik mereka menganggap sudah bisa diterima untuk mengakhiri hidup pasien yang vegetatif dengan membuat mereka lapar atau dibiarkan tanpa air. Inilah masa yang disebut Laureys sebagai "nihilisme terapeutik". 
      Apa yang diusulkan Owen, Laureys dan Schiff adalah upaya untuk memikirkan kembali tentang pasien yang dianggap vegetatif. 
      Sejumlah di antaranya bisa dikelaskan sebagai sadar penuh dan terkunci (locked in). Pemikiran yang sudah mapan dengan tabah mereka lawan. 
      "Anda tak akan bisa membayangkan keadaan di penghujung tahun 1990-an," kata Schiff. "Permusuhan yang kami hadapi bukan sekadar skeptisisme saja." 
      Sambil mengingat masa lalu, Laureys berhenti berkata dan tersenyum tipis, "Para dokter medis tidak senang kalau dikatakan bahwa mereka salah." 
      Lalu datang tahun 2006. Owen dan Laureys sedang berusaha menemukan cara yang dapat diandalkan untuk berkomunikasi dengan pasien dalam keadaan vegetatif, termasuk Gillian (bukan nama sebenarnya). 
      Pada bulan Juli tahun 2005, Gillian berusia 23 tahun ini sedang menyeberang jalan sambil mengobrol di teleponnya. Ia dtabrak dua mobil. 

        Lima bulan kemudian, serangan stroke secara kebetulan malah membuka kotak yang mengurung Gillian. 

        Temuan kunci yang muncul dari studi sistematik Owen dimulai dengan Laurey di tahun 2005. Mereka meminta para sukarelawan yang sehat untuk membayangkan melakukan hal berbeda-beda, mulai dari menyanyi sampai membayangkan wajah ibu mereka. 
        Lalu Owen mendapat ide lain. "Saya minta orang yang sehat membayangkan main tenis, lalu membayangkan berjalan keliling ruang di rumahnya." 
        Membayangkan bermain tenis menghidupakan bagian korteks, yang disebut daerah motorik tambahan, yang terlibat dalam simulasi mental atas gerakan.
        Namun membayangkan berjalan keliling rumah mengaktifkan parahippocampal gyrus di bagian inti otak, di parietal lobe bagian belakang dan lateral premotor cortex. 
        Kedua pola aktivitas ini jelas perbedaannya seperti 'ya' dan 'tidak'. Jadi, jika orang-orang diminta main tenis itu artinya untuk menjawab "ya" dan keliling sekitar rumah untuk menjawab "tidak", dan mereka dapat menjawabnya melalui pemindaian FMRI. 
        Sambil menatap otak Gillian yang vegetatif menggunakan pemindai otak, Owen memintanya melakukan membayangkan hal yang sama dan ia melihat pola aktif yang sama seperti pada para sukarelawan yang sehat. 
        Itu merupakan momen luar biasa. Owen dapat membaca pikiran Gillian!
        Kasus Gillian ini diterbitkan dalam jurnal Science tahun 2006, dan menjadi berita utama di sleuruh dunia. 
        Sejak itu studi yang dilakukan di Belgia, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada menyatakan bahwa sejumlah besar pasien yang diklasifikasikan sebagai vegetatif dalam beberapa tahun ini telah mendapatkan diagnosis yang salah. 
        Owen memperkirakan bahwa mungkin kesalahan diagnosis mencapai sampai 20%.
        Schiff, yang menilai kesalahan diagnosis dengan cara lain menyebutkan bahwa berdasarkan studi baru-baru ini, 40% pasien yang dianggap vegetatif ketika diperiksa lagi lebih dekat, ternyata sebagian sadar. 

        Cahaya masuk di kegelapan 
        Dewasa ini sudah biasa untuk memikirkan masa trasisi antara hidup dan mati sebagai masalah "otak", alih-alih masalah "jantung". 
        Pasien yang berada dalam keadaan vegetatif terus menerus masih memiliki batang otak yang berfungsi dan dapat bernapas tanpa bantuan. 
        Mereka juga mungkin memiliki beberapa tingkat kesadaran dan memiliki sedikit harapan untuk sembuh. 
        Sebagai perbedaan, pemindaian PET terhadap seseorang yang otaknya sudah mati memperlihatkan kekosongan gelap dalam tengkorak kepala, sebuah landskap saraf yang gersang tanpa harapan untuk bangkit lagi; tubuh mereka pun tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan artifisial. 
        Schiff percaya bahwa kombinasi peralatan, obat-obatan dan terapi sel, menjadi dasar untuk diagnosis dan pengobatan generasi baru, yang akan memberikan secercah cahaya pada ketidakjelasan antara sadar dan tidak sadar. "Saat ini kita belum mencapai titik itu," katanya menekankan. 
        Banyak dari pekerjaan dewasa ini mendemonstrasikan pentingnya pemindaian otak pada pasien, namun tentunya mereka akan memerlukan metode yang dapat diandalkan untuk semua pasien. 
        Pada akhirnya, Schiff percaya akan ada "pergeseran budaya". 
        Laureys berpikir mungkin kita harus mulai dengan bahasa yang kita pakai untuk menggambarkan para pasien ini. 
        Ia ingin menggantikan istilah "vegetatif" yang memiliki banyak muatan makna dengan istilah yang lebih netral "keterjagaan yang tidak responsif".

        (Sumber: bbc.co.uk/indonesia)

        Apakah manusia bisa berhibernasi?

        Pada cuaca yang dingin, apakah anda pernah membayangkan diri Anda mematikan sementara diri anda  hingga cuaca kembali menghangat ? Banyak hewan melakukan hal itu, suatu keadaan yang yang dikenal sebagai mati suri atau hibernasi. Hibernasi mengurangi fungsi tubuh hewan seminimum mungkin, berenergi hanya dengan menggunakan simpanan lemak dalam tubuh. Lalu, apakah manusia dapat berhibernasi dengan cara yang sama ?

        Selain menyediakan cara yang nyaman untuk menghindari musim dingin, hibernasi mungkin mungkin dapat digunakan dalam perjalanan ruang angkasa jarak jauh. Sebuah perjalanan ke planet terdekat Bumi, Mars saja membutuhkan waktu delapan bulan dengan teknologi saat ini.
        Jika kita satu hari dapat mengunjungi sistem bintang lain dengan kecepatan cahaya, perjalanan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pergi dalam keadaan hibernasi jangka panjang tentunya tidak membuat jarak membosankan bagi para astronot, dan dapat melestarikan sumber daya vital.

        Suhu tubuh dan metabolisme
        Mati suri tampaknya telah berevolusi  secara efektif mengisi kesenjangan selama beberapa periode, ketika hewan tidak ada memiliki kebutuhan untuk keluar. Kapan dan berapa lama hewan mati suri dapat sangat bervariasi, dari beberapa bulan tahun ini, hanya beberapa jam sehari selama beberapa bulan.
        Beberapa hewan, seperti burung Kolibri dan tikus, memasuki keadaan mati suri setiap hari jika mereka perlu untuk menghemat energi. Lain halnya, seperti landak dan beruang, mereka masuk ke periode lama mati suri, biasanya selama musim dingin (ini adalah apa yang kita sebut hibernasi). Spesies-spesies yang masuk ke dalam mati suri setiap tahun, bahkan jika kondisi di luar stabil, disebutobligatory hibernators.
        Fakta bahwa mamalia besar seperti beruang dan bahkan primata, seperti lemur kerdil Madagaskar, bisa berhibernasi, berarti bahwa secara teoritis manusia tidak terlalu kehabisan energi untuk masuk mati suri.
        Salah satu kesulitan mereplikasi mati suri adalah bahwa kita tidak benar-benar tahu bagaimana hewan memulai dan mempertahankan prosesnya. Banyak penelitian telah dikhususkan untuk menyelidiki mati suri, tetapi beberapa jawaban konklusif telah diperoleh sejauh ini. Di satu sisi mati suri dipicu keadaan tubuh, dimulai dengan perubahan yang terjadi di tiap sel tubuh pada tingkat molekuler, namun pendekatan yang melibatkan sinyal dari sistem saraf atau hormon juga mungkin memainkan peran.
        (K.N Rosandrani / Iflscience)

        Minggu, 03 Juli 2016

        Nyanyi Lagu Dangdut yang Isinya Makian dan Ngomongin Selingkuh

        Untuk kesekian kalinya, generasi penerus bangsa bermasalah dengan dangdut. Yup! Baru-baru ini dunia maya sedang dihebohkan dengan video anak kecil menyanyikan lagu dangdut. Yang ramai diperbincangkan masyarakat bukan aliran musiknya, namun lirik lagunya yang memakai kata-kata kasar dan menceritakan problematika rumah tangga.

        Meski penyanyinya Nova Rizqi Romadhon saat ini duduk di bangku SMP, tetap saja dianggap belum pantas menyanyikan. Berbagai kritik pun muncul, termasuk dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
        Supaya lebih jelasnya, langsung aja yuk simak informasi yang sudah Hipwee himpun dari berbagai sumber berikut ini.

        Video Lelaki Kardus yang dinyanyikan Nova telah diunggah di laman Youtube sejak 28 Juni 2016 lalu. Dalam videonya, Nova nggak tampil sendirian, tapi bersama anak-anak kecil lainnya yang menjadi backing vocal. Lirik lagu yang berisi cacian kepada sosok ayah dan mengisahkan masalah orang dewasa mendapat respons negatif dari netizen. Mereka menganggap makin berkembangnya zaman, anak-anak seperti kekurangan lagu sesuai usia.

        Meski berdasarkan kisah nyata, namun liriknya yang kasar dan menceritakan problematika rumah tangga dianggap melanggar etika dan moral anak.


        Bapakku Kawin Lagi
        Aku Ditinggalin
        Aku sakit hati
        Ibuk ku diduain
        Ibukku minta cerai
        Tapi dipukulin
        Bapakku pengkhianat
        Ibukku dibohongin
        Lelaki kardus
        Lelaki karpet
        Lelaki kencroot
        Lelaki bangkrut
        Lelaki mencret
        Lelaki karbet
        Lelaki bangsat
        Paragraf pertama merupakan sebagian awal lirik lagu Lelaki Kardus yang dinyanyikan Nova. Sedangkan paragraf kedua bagian yang disenandungkan anak-anak kecil lainnya. Asrorun Niam – selaku ketua KPAI mengatakan sudah mendapat konfirmasi dari pencipta lagu Achmad Sawadi.
        Dari situ pun terungkap lagu tersebut diciptakan berdasarkan kisah nyata anak dan perempuan yang 4 tahun lalu menjadi korban poligami serta telah dinikahinya. Keduanya stres dan tak bisa bicara. Walau saat ini ibunya sudah sembuh, anaknya yang sekarang berusia 8 tahun masih bisu. Tetap saja lagu tersebut dinyanyikan oleh anak kecil merupakan salah satu hal yang disayangkan.
        “Walaupun kisah nyata, visualisasi dengan lirik tentang perceraian dan dengan bahasa yang kasar jelas melanggar etika dan moral perlindungan anak,” ujar Asrorun,
        seperti dikutip dari beritakepo.com

        Sayangnya hal itu tak sama dengan ibu Nova anak yang menyanyikan lagu Lelaki Kardus. Menurutnya, yang penting anaknya bernyanyi.


        Kritik-kritik tersebut berbeda dengan pendapat ibunda Nova Nurul. Menurutnya tak masalah Nova saat itu menyanyikan lagu Lelaki Kardus. Yang penting baginya Nova berkarya dan lagu yang dipermasalahkan itu juga terinspirasi dari kisah nyata. Nova sendiri saat ini berusia 15 tahun, sedangkan video Lelaki Kardus tersebut dibuat dari beberapa tahun lalu. Aktivitas Nova dalam bernyanyi pun sudah sering manggung – biasanya sampai ke Malang. 

        Pihak LPA, KPAI, dan Kominfo pun menyayangkannya. Gerakan untuk penyelesaiannya telah dilakukan.


        Sah-sah saja menciptakan lagu dari kisah nyata. Jika lagu seperti Lelaki Kardus dinyanyikan oleh orang dewasa tentu tak akan menjadi masalah. Demikian halnya dengan anak kecil yang ingin menunjukkan bakat bernyanyinya, apalagi kalau hal itu memang keinginannya.Tapi sekiranya butuh batasan-batasan tertentu dalam memberi ruang anak di bawah umur untuk berkarya, apalagi mempublikasikannya di depan publik

        http://www.hipwee.com/hiburan/nyanyi-lagu-dangdut-yang-isinya-makian-dan-ngomongin-selingkuh-anak-ini-bikin-sedih-netizen/

        Ironi moral

        Seiringnya perkembangan jaman kita dapat dengan mudah mengakses apa pun di internet seperti berita peristiwa, tren musik dan busana, kuliner dan masih banyak lagi. Dewasa ini banyak sekali postingan yang kita jumpai di berbagai situs yang menunjukkan sisi negatif yang akan berpengaruh baik itu untuk diri sendiri maupun orang-orang yang melihat postingan tersebut. Orang-orang dapat dengan mudah menerima segala informasi yang tak layak tersebut dan jika tak pandai menyikapinya malah akan berujung ke arah yang kurang baik.
        Tidak dapat dipungkiri lagi saat ini orang dapat dengan bebas mengunggah apa pun tanpa adanya tanggung jawab akan akibatnya. Seperti mengunggah foto maupun video yang anak kecil dan remaja tak pantas melakukannya, tentu teman-teman sendiri banyak menjumpainya bukan?
        Dari unggahan-unggahan yang tak bertanggung jawab tersebut tentunya  banyak kalangan yang meresahkan hal tersebut. Apalagi ketika anak-anak membuka internet dan melihat hal yang kurang baik tanpa pengawasan orangtua kemungkinan besar anak-anak akan mengikuti apa yang sudah mereka lihat.
        Dari unggahan-unggahan tersebut apakah mereka tidak menyadari bahwa ratusan bahkan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia akan melihat itu dan menjadi candu untuk orang lain terlebih lagi sekarang ini pengguna internet adalah anak-anak dan remaja. Mereka tak segan-segan mengikuti apa yang mereka lihat dan ikut mengunggah hal yang kurang baik tersebut tanpa rasa malu. 
        Ternyata dari hal-hal sepele tersebut akan menjadi racun untuk pemuda-pemudi penerus bangsa untuk mengikuti tren-tren yang tidak wajar tersebut. Seperti yang baru-baru ini kita dengar, seorang remaja SMA membentak seorang polisi wanita, mengunggah foto-foto bak orang dewasa, anak-anak dibawah umur yang tanpa rasa malu mengunggah foto dengan kekasihnya di atas ranjang.
        Sungguh menyedihkan bukan moral anak muda saat ini? Tulisan ini tidak saya tujukan untuk menjelek-jelekan berbagai pihak namun untuk lebih mengingatkan hal-hal apa saja yang sudah kita lupakan tentang moral sebagai manusia yang beriman dan berahlak.
         

        1. Banyak Toleransi

        Bumi ini sudah tua dan perkembangan teknologi, budaya dan lain sebagainya maju dengan pesat. Dengan mengatas namakan hak asasi manusia semuanya tak segan-segan melakukan apa pun tanpa ada dasar yang jelas. Semua orang punya hak namun tak mau haknya terbatasi walaupun mereka tahu bahwa mereka punya kewajiban dengan hukum-hukum yang berlaku. 
        "Dia aja boleh begini begitu masa aku gak boleh? "
        "Jangan norak deh, sekarang emang lagi musimnya!"
        "Di luar negri aja lagi ngetren!"
        Terlepas dari budaya barat kita sebagai umat beragama pastinya memiliki batasan-batasan dalam bergaul dan bersikap. Jika kita mentoleransikan hal-hal yang lagi ngetren tapi tak sesuai dengan norma-norma yang ada bagaimana dengan nasib muda-mudi penerus bangsa yang selanjutnya?

        2. Kurang Bergaul Dengan Orang Tua

        Banyak yang menganggap berbicara dengan orang tua itu membosankan dan merisaukan pasalnya karena orang tua sukanya menceramahi anak muda. Padahal dengan seringnya kita berbicara dengan orang tua baik itu bukan orangtua kita sendiri dan berbagi cerita serta sering diceramahi, membuat diri kita tak lepas dari norma-norma yang disampaikan dalam nasihat orang tua tersebut. Jika kita banyak mendengarkan nasihat-nasihat orang tua maka diri kita pun terbiasa akan hal tersebut bahkan akan menjadikan suatu kebiasaan bagi diri kita.
        Bayangkan kalau kita hidup tanpa arahan orang tua, kemungkinan besar kita akan melampiaskan masalah-masalah yang kita alami ke tempat kurang tepat. Seperti kabur dari rumah, mabuk bersama teman-teman, nongkrong dijalanan dan sebagainya tanpa tujuan yang jelas. Memang hal-hal tersebut adalah masa dimana anak muda mencari jati dirinya, namun jika berlebihan apa jadinya?

        3. Selalu Merasa Hebat

        Selalu menganggap diri lebih baik dan hebat dari orang lain membuat diri kita sombong dan tidak mau mendengarkan masukan dari orang lain. Sikap seperti ini yang membuat seseorang menjadi keras dan tak peduli akan pendapat orang lain.
        Padahal tidak ada satu manusia pun yang dapat menjalani hidup nya sendiri. Semua orang butuh orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Sikap arogan yang kita miliki membuat kita meremehkan orang lain dan membuat orang tak nyaman bergaul dengan kita.
        "Tahu apa sih dia? kayak pinter aja"
        "Jangan sok nasehatin aku deh. Urusin aja dirimu sendiri"
        Kata-kata di atas pasti pernah kita ucapkan baik ke orang lain maupun terhadap diri kita sendiri. Padahal dengan adanya nasehat dari orang lain dapat membantu kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Apa gunanya wajah cantik/ganteng dan ilmu yang tinggi kalau kita tidak mampu menghargai dan menyikapi dengan baik kepada orang yang memberi masukan kepada kita?

        4. Takut Dianggap Tidak Keren

        Melihat sekarang ini orang-orang berlomba mengunggah aktivitasnya sehari-hari di media sosial dan tidak menutup kemungkinan mereka yang aslinya biasa-biasa saja juga panas ingin mengikuti tren yang sedang melambung ini. Bukan hanya di sinetron saja kita bisa melihat seorang anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memaksakan orang tua nya untuk memberikan apa saja yang ia minta hanya untuk terlihat keren dimata teman-temannya.
        Sungguh Menyedihkan melihat hal itu terjadi di sekeliling kita, tanpa rasa kasihan memeras orang tua hanya untuk hal sepele seperti itu.
        "bu, pokoknya besok aku mau di belikan iPhone seperti teman-teman"
        "Eh.. Si A ngepost foto dugem tuh, kita jangan mau kalah!"
        "Keren banget sih dia pake pakaian mini gitu, besok beli ah buat nongkrong!"
        Mereka bangga dengan diri mereka yang mengunggah kebiasaan yang tidak seharusnya mereka unggah di media sosial. Kita juga tida bisa menyalahkan teman-teman yang mempunyai keuangan yang lebih baik dari pada kita. Kalau kita mampu menyaring mana yang baik dan yang tidak, ya tidak ada salahnya.
        Tapi, kalau sudah seperti yang di atas rasanya itu tidak patut untuk memaksakan dan kita ikuti, sebab kita sendiri mengatahui bahwa dalam setiap agama ada batasan-batasan dalam bergaul dan tuhan tidak menyukai orang-orang yang suka mengumbar-ngumbar kemewahan apalagi mengumbar tubuh.
        Apakah mereka tidak tahu dampak yang terjadi jika unggahan yang mengumbar tersebut ditiru oleh anak-anak di bawah umur? Bagaimana nasib penerus bangsa yang akan datang?


        5. Tidak Belajar Menjadi Seperti Gelas Yang Setengah Kosong

        Tentu kalian sudah banyak mendengar istilah gelas setengah kosong. Menurut penalaran saya kita di ibaratkan sebagai gelas dan air adalah ilmu yang kita miliki. Apabila kita menempatkan diri kita sebagai sebuah gelas yang berisi air penuh maka tidak ada tempat lagi untuk air masuk kedalam gelas, jika gelas (kita) dituangkan air (ilmu) dari gelas yang lain (ilmu dari orang lain) maka otomatis air itu akan tumpah.
        Lebih jelasnya saat kita merasa diri kita sudah punya cukup ilmu kita menganggap ilmu orang lain tidak berguna bagi kita, kita mendengarkan ilmu yang disampaikan oleh orang lain namun karena kesombongan yang kita miliki kita menganggap remeh ilmu yang diberikan dan mengabaikannya ilmu yang diberikan tersebut.
        Namun, apabila kita menempatkan diri kita sebagai gelas yang setengah kosong maka air masih dapat mengisi kekosongan tersebut dan ketika gelas itu penuh kita membaginya lagi kepada gelas-gelas yang lain dan berlanjut terus menerus seperti itu. 
        "Aku gak butuh nasehat dari kamu!"
        "Ilmu kamu itu tidak cukup untuk berbicara dengan saya!"
        "Dasar anak kecil, tahu apa kamu tentang hidup?!"
        Kalau anak muda bersikap terus menerus seperti itu bagaimana mereka akan belajar menghargai orang lain? Bagaimana anak muda bisa haus akan ilmu? Bukankah ilmu adalah hal yang berharga? Padahal semakin banyak kita mempunyai ilmu semakin merunduklah kita, semakin banyaknya ilmu maka semakin pandai kita memilih mana yang baik/buruk dalam bersikap sebagai manusia yang beriman dan berilmu.

        6. kurangnya Pendidikan Agama

        Pendidikan agama adalah kunci utama kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bayangkan apabila kita tidak mendapatkan pendidikan agama sejak kecil hingga sekarang, akan seperti apakah gaya hidup kita. Di dalam kita-kitab semua umat beragama telah menjelaskan berbagai tuntunan serta hukum-hukum dalam menjalani hidup.
        Contohnya Al-Quran, didalam Al-Quran sudah terdapat penjelasan adab-adab dalam mengerjakan apa pun. Banyak hukum-hukum didalam Al-Quran dan kitab agama lain yang dapat menuntun kita ke jalan yang baik. apabila  kita tidak mengindahkan apa yang sudah ditentukan dari tuhan untuk kita bagaimana mungkin kita dapat menjadi seorang pribadi yang baik?
        Maka dari itu kurangnya pendidikan agama pada anak muda sangat berpengaruh besar dalam kesehariannya bergaul dan bersikap.
        "Udah gak ada duit lagi nih, mau gak mau gue harus ketemu sama om itu"
        "Anjrit banyak banget masalah gue!! Ah dugem aja lah biar have fun"
        Kurangnya pendidikan agama pada remaja membuat mereka melarikan diri dari masalah ke tempat-tempat yang sebetulnya tidak memberikan kebahagian dan ketenangan yang sesungguhnya. Remaja juga tidak mampu mengontrol keingintahuannya sehingga tidak dapat membedakan mana yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Remaja seakan buta dengan mana yang buruk dan yang baik. Yang lebih parahnya lagi mereka tidak malu mengunggah kebiasaan yang tidak baik tersebut ke medial sosial.

        Sekian adalah beberapa hal yang mampu menurunkan moral, semoga dengan adanya tulisan ini dapat membuat kita semua sadar bahwa perubahan dapat dimulai dengan hal yang kecil. Mari kita menjadi insan yang lebih baik ke depannya.


        http://www.hipwee.com/list/6-hal-yang-membuat-moral-anak-muda-berkurang/

        Minggu, 19 Juni 2016

        Tanda kurang tidur

        Terbiasa kurang tidur bukan berarti bahwa jumlah itulah yang Anda butuhkan untuk tidur," kata dokter yang sering tampil di CBS untuk memberikan nasihat mengenai kesehatan.
        Lalu, apa saja sebenarnya tanda-tanda bahwa seseorang kurang lama memejamkan matanya di malam hari? Kepada WellAndGood.com, Dr Phillips memaparkan sembilan tanda-tanda orang yang kekurangan tidur sebagai berikut:
        1. Mudah marah. "Kurang tidur meningkatkan risiko depresi, kegelisahan, dan terutama reaktif terhadap stress," kata Dr. Phillips. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of California-Berkeley dan Harvard Medical School pada 2007 menunjukkan bahwa otak yang kurang tidur ternyata lebih reaktif terhadap gambar-gambar mengganggu daripada otak milik orang yang cukup tidur. Jadi, jika hanya karena masalah sepele Anda marah, bisa jadi kurang tidur adalah penyebab kemarahan Anda itu.
        2. Sulit memfokuskan pikiran. Apakah Anda kesulitan untuk memusatkan pikiran pada pekerjaan? Ketidakmampuan untuk tetap waspada adalah tanda bahwa otak perlu diistirahatkan.
        3. Mudah lupa. "Banyak memori yang dipindahkan dari jangka pendek ke jangka panjang, terutama saat tidur," kata Dr. Phillips. Jadi, jika Anda kekurangan tidur, bisa jadi Anda akan lupa nama rekan kerja atau kemungkinan besar Anda akan harus sering menggunakan aplikasi "Find My Iphone" untuk menemukan dimana gawai itu diletakkan.
        4. Berat badan naik. Tidur menjaga "hormon lapar" -- ghrelin dan leptinmenginformasikan apakah tubuh dalam keadaan kenyang atau lapar -- agar tetap seimbang. Selain itu tidur juga penting bagi pengaturan kadar insulin dalam darah. Kurang tidur akan membuat kadar gula darah turun, kemudian rasa lapar menyebabkan Anda mencari camilan. Tidak mengherankan jika donat adalah obat yang paling ampuh bagi orang yang kelelahan.
        5. Anda cenderung menubruk sesuatu. "Jika Anda kurang tidur, respon motorik Anda melambat," kata Dr Phillips. Itulah sebabnya mengemudikan kendaraan saat mengantuk sangat berbahaya. Jika Anda tidak sedang berada di balik kemudi, efeknya adalah Anda kelihatan ceroboh.
        6. Mudah terserang demam. Tidur merupakan kunci bagi sistem imun yang sehat. Jadi, tidur yang sebentar akan menyebabkan tubuh mudah disusupi virus. Sebuah studi dari Carnegie Mellon University pada 2009 menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari tujuh jam ternyata tiga kali lebih mudah terkena demam daripada orang yang tidur delapan jam atau lebih.
        7. Kesulitan untuk tidur. "Jika Anda mengalami kurang tidur yang kronis, tingkat hormon tertentu seperti cortisol akan melonjak," kata Dr Phillips. "Sama sulitnya ketika Anda kurang tidur, tubuh akan berada pada keadaan selalu waspada." Dengan adanya curtisol dalam aliran darah, akan sangat sulit untuk tertidur, sebuah keadaan yang sangat berlawanan dengan yang kita inginkan.
        8. Muncul jerawat. Cortisol atau hormon stres akan meningkat ketika Anda mengalami kelelahan dan tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Hal ini akan meningkatkan peradangan yang menyebabkan jerawat muncul.
        9. Sakit perut. Ya, perut juga bisa terpengaruh oleh kurang tidur. "Kurang tidur akan mengganggu keseimbangan bakterial dalam sistem pencernaan," Dr Phillips. Hal ini bisa membuat perut sakit seperti sembelit atau diare atau sekadar perut merasa tidak nyaman.

        https://beritagar.id/artikel/kesehatan/9-tanda-orang-kurang-tidur