Dari berbagai macam cerita yang saya dengar, saya menyimpulkan sendiri bahwa hubungan asmara itu mirip seseorang yang mendapatkan sesuatu seperti yang diinginkan hatinya, entah itu mobil baru, rumah baru atau seperti teman saya mendapatkan binatang peliharaan Yang baru.
Maka ditahap awal akan begitu banyak perhatian dicurahkan. Semua dirawat dengan baik dan cermat. Tapi, selang beberapa bulan kemudian, akan ada penuruan dari semua perawatan dan perhatian itu. Akan ada sejuta alasan kalau ditanya mengapa itu terjadi, tapi mungkin yang utama adalah manusia itu dasarnya memiliki rasa bosan, apalagi kalau sudah tidak ada tantangannya lagi.
Dari sejuta cerita yang masuk ke telinga, tak dipungkiri ada yang memiliki perjalanan asmara yang setelah sekian belas tahun masih bisa menyetrum meski tak sekencang dulu sehingga mereka tak perlu mencari bumbu diluar hubungan itu.
Mungkin, baiknya dari awal saat menjalin hubungan kita mengatakan kepada pasangan bahwa saya ini manusia yang seperti dirinya. banyak maunya, malas bukan main, banyak takutnya, bisa berubah kapan saja, rada egois atau egois banget.
Sebagai manusia saya bisa jatuh cinta seperti orang tidak waras, teeapi kemudian bisa seperti orang waras sehingga kalau sedang tidak waras prilakunya bisa menggebu-gebu. Tetapi, kalau lagi waras bisa bisa-biasa saja. Tentu saya tak akan lupa untuk mengatakan saya ini manusia yang juga cepat bosan.
karena pada dasarnya hubungan dilandasi oleh cinta, bukan paksaan. Bukan karena pasangan saya kaya raya, atau alasan matrealistis atau fisik semata. Tetapi, cinta saya sama sekali tidak bisa dijadikan sebuah jaminan unuk diperlakukan semena-mena.
Dan yang terakhir, saya akan mengingatkan kepada diri saya sendiri kalau kita ini cuma manusia. Sama-sama punya kelemahan, sama -sama punya kelebihan. Sama -sama punya kekurangan. Jadi jangan menuntut apa pun karena kita sama - sama tak suka dituntut dan tak bisa dituntut. Kita hanya bisa sama-sama memiliki pengertian
Senin, 18 Mei 2015
sisi hitam
Apa yang membuat bintang begitu indah saat malam hari?
Malam, ya....tak selamanya gelap atau sisi hitam adalah malapetaka. Adakalanya sesuatu baru terlihat indah saat kegelapan itu datang. Seperti bintang yang baru terlihat indah saat malam hari. Coba bayangkan apakah bintang tetap akan indah dan benderang jika ada siang hari? Tentu tidak, karena sinar bintang akan hilang ditelan mentari. Lantas benarkah hitam yang katanya buruk benar benar buruk?
Dalm dunia fashion kita sepakat bahwa warna hitam adalah penyelamat. Lewat hitam tumpukan lemak di perut dan paha seseorang akan ditutupi. Sehingga orang itu akan tampak lebih langsing. Jadi benarkah hitam itu buruk?
Bukan kah dengan adanya hitam maka putih akan terlihat begitu suci. Tidak kah dengan adanya panas, dingin terasa begitu menyenagkan? Atau sebenarnya hitam justru merupakan penyelamat. Yang membuat sisi lain terlihat baik...
Malam, ya....tak selamanya gelap atau sisi hitam adalah malapetaka. Adakalanya sesuatu baru terlihat indah saat kegelapan itu datang. Seperti bintang yang baru terlihat indah saat malam hari. Coba bayangkan apakah bintang tetap akan indah dan benderang jika ada siang hari? Tentu tidak, karena sinar bintang akan hilang ditelan mentari. Lantas benarkah hitam yang katanya buruk benar benar buruk?
Dalm dunia fashion kita sepakat bahwa warna hitam adalah penyelamat. Lewat hitam tumpukan lemak di perut dan paha seseorang akan ditutupi. Sehingga orang itu akan tampak lebih langsing. Jadi benarkah hitam itu buruk?
Bukan kah dengan adanya hitam maka putih akan terlihat begitu suci. Tidak kah dengan adanya panas, dingin terasa begitu menyenagkan? Atau sebenarnya hitam justru merupakan penyelamat. Yang membuat sisi lain terlihat baik...
Sabtu, 02 Mei 2015
tenang
Laut yang tenang dan berwarna biru seakan menjadi magnet penghibur lara dan penat bagi siapa saja yang merasakannya. Adakah gambaran ini sama dengan sosok dari manusia?. Mereka bilang manusia adalah miniatur alam semesta yang lebih besar dari cacian dan luas dari pujian. Apakah manusia yang tenang juga bisa mengubur tiap lara dan penat dari orang disektitanya. Dapatkah org yang tenang membawa kebahagian hanya dari kehadirannya saja? Benarkah tenang memiliki arti, lebih dari sekedar damai untuk diri sendiri?
Tetap lah tenang karena cuma itu caranya klo ingin tetap tenang. Karena manusia adalah miniatur alam semestra lebih luas dari cacian dan lebih besar dari pujian.
Tetap lah tenang karena cuma itu caranya klo ingin tetap tenang. Karena manusia adalah miniatur alam semestra lebih luas dari cacian dan lebih besar dari pujian.
Selasa, 28 April 2015
pohon
Kalau diperhatikan, kok bisa ya pohon itu tetap berdiri kokoh meski diterpa panas maupun hujan? Padahal, kalau kita dihadapi dengan hal yang sama, mungkin kita sudah misuh-misuh duluan. Tapi, itulah intinya, mungkin begitu seharusnya kita menjalani hidup. Panas itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan cadangan makanan, membantu kita tetap hidup. Dan ketika hujan datang, kita mungkin hanya perlu untuk meliuk bersama angin yang datang bersamanya, tidak menjadi kaku lalu patah. Hujan pun mungkin menyebabkan satu-dua ranting kita patah, tapi perhatikanlah bahwa mungkin itu adalah dahan-dahan tua, yang memang sudah waktunya untuk berganti dengan yang baru — yang lebih kokoh.
Di situ letak bedanya kita dan pohon. Pohon bersikap seperti itu mungkin hanya karena sudah kodratnya seperti itu, mengikuti apa yang seharusnya terjadi. Sedangkan kita, manusia, punya kebebasan yang diberikan Tuhan untuk memilih jalan kita sendiri — memilih cara kita menyikapi hidup. Kalau kita salah, mungkin saja “patah” adalah konsekuensi dari pilihan kita. Namun, kebahagiaan yang dapat kita rasakan ketika berhasil bersikap benar tentu merupakan berkah yang teramat besar.
menyerah
Sudah gak tahan lagi. Sudah capek. Sudah pengen nyerah.” Begitu kira-kira pesan dari seorang teman di Tweeter. Setelah membacanya, saya terdiam dan mencoba untuk memberi komentar atas pesan bernada keluh kesah itu.
Sebelum melayangkan komentar, saya melakukan kilas balik pada sebuah peristiwa yang sedang saya alami. Sesuatu yang menjengkelkan. Karena, saya dibuat sedemikian rupa menjadi terdakwa dari sebuah kesalahan besar yang tidak saya lakukan. Gondoknya setengah hidup. Betul-betul membuat saya dua hari tak bisa tidur.
Mungkin sama gondoknya dengan orang-orang yang kini didakwa mesum. Padahal, menurut saya, yang justru paling mesum dan yang paling tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, yaa… manusia yang dengan kurang ajarnya memublikasikan perbuatan yang katanya maksiat itu, dan sejuta orang lainnya yang turut dalam euforia menjalarkan video itu makin ke mana-mana.
Mengingat peristiwa yang menimpa saya itu, makin membuat saya jengkel karena saya baru pulang dari menikmati liburan. Kemudian saya protes kepada yang mengorganisasi setiap momen dalam hidup saya itu. Kenapa sih, kok, seneng banget lihat saya ini susah. Kok rasanya mau tentrem sebentar saja susah.
Sampai pada suatu hari saya kelelahan. Kelelahan protes. Kemudian saya memutuskan untuk menyerah. Menyerah pada keadaan seperti seekor sapi yang tak bisa apa-apa berjalan ke tempat pembantaian. Dan menit saya memutuskan untuk menyerah, saya terlepas dari beban menjengkelkan itu.
Saya berhenti komat-kamit menaikkan protes dan demo kepada Sang Khalik. Saya tak tahu kalau sapi, apa setelah dibantai ia merasa lega karena mati. Mungkin melihatnya harus berbeda. Ia mati untuk saya. Supaya saya bisa menikmati enaknya rawon dan selad Solo.
Pada saat saya menyerah, saya baru bisa berpikir mengapa saya gondok? Karena, saya masih mau mencari celah untuk memenangkan, bahkan kalau bisa meniadakan peristiwa itu. Celah untuk memperbaiki nasi yang telah jadi bubur itu. Pada saat saya membiarkan kalah, saya tahu adalah sebuah kekeliruan besar mau mengubah bubur jadi nasi lagi.
Bubur ayam
Selama hidup saya dicekoki nasihat supaya jangan sekali-kali menyerah pada keadaan. Tapi, kali ini saya membiarkan untuk berhenti mengaminkan nasihat yang kelihatannya mulia itu, tapi menjerat saya semakin frustrasi dan melelahkan. Berjuang terus itu menghabiskan energi, ada masanya seseorang membutuhkan waktu rehat. Itu mengapa tidur diperlukan dan sebuah bukti betapa tidak berdayanya saya melawan kantuk.
Saya dibiarkan menyerah kalah agar setelah itu saya menjadi manusia seutuhnya. Jadi, kalau ditanya bagaimana rasanya asam, manis, dan pahit, kalah dan menang, paling tidak saya tahu. Maka, benarlah kalau hidup itu penuh dengan sejuta rasa, dan berjuta rasa.
Setelah menyerah, saya tertidur lelap. Edan saya pikir, la wong kalah kok saya malah terbebaskan. Jadi untuk gain itu tak selalu harus pain. Mau selalu menang itu mengeringkan tulang dan menenggelamkan jiwa. Menyerah kalah itu melepaskan beban, dan sebuah masa mengumpulkan energi baru untuk berdiri kembali, dan tidak untuk dipakai melawan hal yang lama tadi.
Keadaan yang saya hadapi tak berubah, masih harus dihadapi dengan banyak jalan berliku. Tetapi, hal paling menyenangkan dari menyerah kalah adalah melihat peristiwa yang sama dengan lensa mata yang berbeda.
Namanya juga menyerah dan kalah, yaa... saya rela-rela saja untuk membiarkan semuanya terjadi, membiarkan ada yang mengobok-obok hidup saya meski setiap hari saya panjatkan sebuah permohonan agar saya itu dilindungi dari yang jahat, dari yang berniat mengurangajari saya.
Saya kalah sama sapi. Saya yakin mereka tak pernah memanjatkan permohonan untuk tidak dibantai. Mereka punya mental lahir untuk dibantai, yaaa… supaya saya dan Anda bisa menjadi sehat.
Kalau sudah rela, saya cuma tinggal menjalaninya seperti mengikuti aliran air, tanpa berniat melawan arus dengan sejuta rekayasa, atau balas dendam. Kalah itu menang. Di situasi tak berdaya itu, Tuhan memberikan lensa yang terang untuk melihat kekalahan dari sisi yang lain. Maka, demo kepada Sang Khalik itu semestinya memang tak perlu ada.
Kalah yang menenangkan dan memenangkan itu adalah membiarkan nasi menjadi bubur, dan melihat bubur, kemudian timbul ide untuk menambahkan ke dalamnya potongan ayam, kecap manis, daun bawang, telor setengah matang, dan kuah kaldu. Maka, pada situasi itulah saya bersyukur bahwa dalam hidup ini nasi bisa jadi bubur. Uenak!
Maka, kepada teman saya di Tweeter, saya membalasnya demikian. Nyerah saja. Menyerah itu menghilangkan capek. Setelah itu, saya mengambil iPod menutup lubang telinga dan memenuhi kepala saya dengan suara Joy Tobing menyanyikan It is well with my soul.
Parodi samuel
Sebelum melayangkan komentar, saya melakukan kilas balik pada sebuah peristiwa yang sedang saya alami. Sesuatu yang menjengkelkan. Karena, saya dibuat sedemikian rupa menjadi terdakwa dari sebuah kesalahan besar yang tidak saya lakukan. Gondoknya setengah hidup. Betul-betul membuat saya dua hari tak bisa tidur.
Mungkin sama gondoknya dengan orang-orang yang kini didakwa mesum. Padahal, menurut saya, yang justru paling mesum dan yang paling tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, yaa… manusia yang dengan kurang ajarnya memublikasikan perbuatan yang katanya maksiat itu, dan sejuta orang lainnya yang turut dalam euforia menjalarkan video itu makin ke mana-mana.
Mengingat peristiwa yang menimpa saya itu, makin membuat saya jengkel karena saya baru pulang dari menikmati liburan. Kemudian saya protes kepada yang mengorganisasi setiap momen dalam hidup saya itu. Kenapa sih, kok, seneng banget lihat saya ini susah. Kok rasanya mau tentrem sebentar saja susah.
Sampai pada suatu hari saya kelelahan. Kelelahan protes. Kemudian saya memutuskan untuk menyerah. Menyerah pada keadaan seperti seekor sapi yang tak bisa apa-apa berjalan ke tempat pembantaian. Dan menit saya memutuskan untuk menyerah, saya terlepas dari beban menjengkelkan itu.
Saya berhenti komat-kamit menaikkan protes dan demo kepada Sang Khalik. Saya tak tahu kalau sapi, apa setelah dibantai ia merasa lega karena mati. Mungkin melihatnya harus berbeda. Ia mati untuk saya. Supaya saya bisa menikmati enaknya rawon dan selad Solo.
Pada saat saya menyerah, saya baru bisa berpikir mengapa saya gondok? Karena, saya masih mau mencari celah untuk memenangkan, bahkan kalau bisa meniadakan peristiwa itu. Celah untuk memperbaiki nasi yang telah jadi bubur itu. Pada saat saya membiarkan kalah, saya tahu adalah sebuah kekeliruan besar mau mengubah bubur jadi nasi lagi.
Bubur ayam
Selama hidup saya dicekoki nasihat supaya jangan sekali-kali menyerah pada keadaan. Tapi, kali ini saya membiarkan untuk berhenti mengaminkan nasihat yang kelihatannya mulia itu, tapi menjerat saya semakin frustrasi dan melelahkan. Berjuang terus itu menghabiskan energi, ada masanya seseorang membutuhkan waktu rehat. Itu mengapa tidur diperlukan dan sebuah bukti betapa tidak berdayanya saya melawan kantuk.
Saya dibiarkan menyerah kalah agar setelah itu saya menjadi manusia seutuhnya. Jadi, kalau ditanya bagaimana rasanya asam, manis, dan pahit, kalah dan menang, paling tidak saya tahu. Maka, benarlah kalau hidup itu penuh dengan sejuta rasa, dan berjuta rasa.
Setelah menyerah, saya tertidur lelap. Edan saya pikir, la wong kalah kok saya malah terbebaskan. Jadi untuk gain itu tak selalu harus pain. Mau selalu menang itu mengeringkan tulang dan menenggelamkan jiwa. Menyerah kalah itu melepaskan beban, dan sebuah masa mengumpulkan energi baru untuk berdiri kembali, dan tidak untuk dipakai melawan hal yang lama tadi.
Keadaan yang saya hadapi tak berubah, masih harus dihadapi dengan banyak jalan berliku. Tetapi, hal paling menyenangkan dari menyerah kalah adalah melihat peristiwa yang sama dengan lensa mata yang berbeda.
Namanya juga menyerah dan kalah, yaa... saya rela-rela saja untuk membiarkan semuanya terjadi, membiarkan ada yang mengobok-obok hidup saya meski setiap hari saya panjatkan sebuah permohonan agar saya itu dilindungi dari yang jahat, dari yang berniat mengurangajari saya.
Saya kalah sama sapi. Saya yakin mereka tak pernah memanjatkan permohonan untuk tidak dibantai. Mereka punya mental lahir untuk dibantai, yaaa… supaya saya dan Anda bisa menjadi sehat.
Kalau sudah rela, saya cuma tinggal menjalaninya seperti mengikuti aliran air, tanpa berniat melawan arus dengan sejuta rekayasa, atau balas dendam. Kalah itu menang. Di situasi tak berdaya itu, Tuhan memberikan lensa yang terang untuk melihat kekalahan dari sisi yang lain. Maka, demo kepada Sang Khalik itu semestinya memang tak perlu ada.
Kalah yang menenangkan dan memenangkan itu adalah membiarkan nasi menjadi bubur, dan melihat bubur, kemudian timbul ide untuk menambahkan ke dalamnya potongan ayam, kecap manis, daun bawang, telor setengah matang, dan kuah kaldu. Maka, pada situasi itulah saya bersyukur bahwa dalam hidup ini nasi bisa jadi bubur. Uenak!
Maka, kepada teman saya di Tweeter, saya membalasnya demikian. Nyerah saja. Menyerah itu menghilangkan capek. Setelah itu, saya mengambil iPod menutup lubang telinga dan memenuhi kepala saya dengan suara Joy Tobing menyanyikan It is well with my soul.
Parodi samuel
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)